Karhutla Landa Lima Kawasan Gunung di Jawa Timur, Api Belum Padam
Karhutla melanda lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan melakukan pemadaman manual dan pemantauan titik api.
Salah satu petugas dari Badan Penegawasan Obat dan Makanan DIY sedang mengecek produk di salah satu swalayan yang ada di Kecamatan Wonosari, Rabu (31/5/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Sejumlah oknum pegadang di pasar tradisional masih kedapatan menjual bahan makanan dan minuman yang mengandung bahan berhahaya
Harianjogja.com, SLEMAN- Sejumlah oknum pegadang di pasar tradisional masih kedapatan menjual bahan makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya. Pembeli diminta jeli saat memilih makanan atau minuman tersebut.
Kepala Bidang Usaha Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman Nurhadiyati Patminingsih mengatakan, berdasarkan hasil operasi yang dilakukan pada beberapa pasar tradisional ditemukan oknum pedagang yang masih menggunakan bahan berbahaya pada makanan dan minuman yang dijual.
"Hasil temuan bervariasi dan kami lakukan sampling untuk mengetahui bahan makanan dan minuman yang digunakan pedagang," ujarnya kepada Harianjogja.com, Rabu (31/5/2017).
Dia memaparkan, dari hasil pantauan pengawasan bahan pangan berbahaya yang dilakukan selama Ramadan, didapati sejumlah temuan. Di Pasar Jati ditemukan teri nasi yang mengandung formalin. Temuan yang sama juga didapat di Pasar Colombo, Pasar Pakem, Potrojayan, Gentan dan Pasar Prambanan.
"Di Pasar Prambanan juga ditemukan krupuk dan lanting merah mengandung rhodamin," ungkap Nur.
Di Pasar Potrojayan, selain teri nasi berformalin juga ditemukan kue mangkok dan jipang merah yang mengandung rhodamin. Temuan yang sama juga terjadi di Pasar Pakem. "Di Pasar Gentan, petugas menemukan cendol dan kue mangkok berrhodamin serta tahu isi menggunakan metanil yelow," ujarnya.
Cendol berodamin juga ditemukan di Pasar Ngijon. Adapun di Pasar Godean petugas menemukan lempeng telo jleret merah yang mengandung rhodamin. Pihaknya akan terus melakukan operasi bahan makanan berbahaya tersebut.
"Mereka yang terbukti menjual makanan berbahaya diberikan surat peringatan. Kalau masih ngeyel ijin akan dicabut," kata Nur.
Kepala Disperindag Sleman Tri Endah Yitnani menambahkan, pihaknya juga melakukan pembinaan kepada para pedagang nakal tersebut. Bahkan beberapa barang bukti yang ditemukan juga disita.
"Yang kerupuk, diremuk, yang dawet dimusnahkan. Teri nasi sebagian dibeli dan pedagang diminta membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi lagi perbuatannya," kata Endah.
Terkait masih ditemukannya bahan makanan berbahaya di pasar-pasar tradisional, Endah berharap edukasi akan terus dilakukan. Baik kepada para pedagang maupun masyarakat. Hal itu sangat diperlukan sehingga masyarakat terutama ibu-ibu yang berbelanja memiliki kemampuan dan pengetahuan untuk memilih sendiri makanan yang sehat tanpa tambahan berbahaya.
"Kami berharap jadilah konsumen yang teliti dan cerdas. Kami juga mengingatkan para pedagang jangan hanya memikirkan keuntungan tapi juga memelihara kesehatan pembeli," harap Endah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Karhutla melanda lima kawasan gunung di Jawa Timur sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan melakukan pemadaman manual dan pemantauan titik api.
Simak syarat dan cara mengakses data STNK melalui aplikasi SIGNAL serta hal yang perlu diketahui soal dokumen kendaraan saat razia.
Dua restoran di Bali, Boy'N'Cow dan Dava Steak & Seafood, masuk daftar 25 restoran terbaik dunia Tripadvisor Travelers’ Choice Awards 2026.
Sebanyak 44.200 anak keluarga miskin bersekolah di Sekolah Rakyat. Pemerintah juga memberdayakan orang tua melalui program LAKSMI.
Dinkes Kulon Progo mencatat 64 kasus leptospirosis dan tujuh kematian sepanjang 2026. Petani menjadi kelompok paling rentan terpapar.
Simak cara melaporkan dugaan kecurangan TKA 2026, kanal pengaduan resmi, bukti yang perlu disiapkan, sanksi, dan jadwal ujian.