64 Kasus Leptospirosis di Kulon Progo, 7 Orang Meninggal

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Selasa, 27 Oktober 2026 18:17 WIB
64 Kasus Leptospirosis di Kulon Progo, 7 Orang Meninggal

Ilustrasi leptospirosis,/JIBI

Harianjogja.com, KULON PROGO—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulon Progo mencatat 64 kasus leptospirosis dengan tujuh kematian sepanjang 2026. Petani menjadi kelompok yang paling banyak terdampak penyakit akibat bakteri Leptospira tersebut, disusul pekerja serabutan.

Kepala Dinkes Kulon Progo, Eko Budiarto, mengatakan hampir 60% penderita leptospirosis di wilayahnya merupakan petani. Aktivitas di sekitar rumah, persawahan, dan tegalan membuat kelompok ini berisiko terpapar lingkungan yang tercemar bakteri penyebab leptospirosis.

"Kasusnya 64 di tahun 2026. Tertinggi memang pernah tercatat di tahun 2017, namun untuk tahun ini ada 64 kasus yang menderita dan yang meninggal ada 7 orang," ujar Eko kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Air dan Lingkungan Tercemar Jadi Risiko Penularan

Leptospirosis merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Leptospira. Bakteri ini dapat menyebar melalui urine hewan yang terinfeksi, terutama tikus, kemudian mencemari tanah atau sumber air di sekitarnya.

Paparan dapat terjadi ketika seseorang bersentuhan dengan air atau tanah yang tercemar, termasuk genangan, atau mengonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi. Bakteri dapat masuk ke tubuh melalui luka pada kulit maupun selaput lendir, seperti mata, hidung, dan mulut. 

"Resiko terbanyak adalah resiko yang berhubungan dengan air. Air yang menggenang, sumur, dan lain sebagainya yang akhirnya dikonsumsi dan masuk lewat makanan atau minuman yang kita konsumsi," jelas Eko.

Penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Karena itu, perhatian utama pencegahan berada pada pengendalian sumber penularan dari hewan serta upaya menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan air yang digunakan sehari-hari.  

Penanganan Dini Penting untuk Mencegah Komplikasi

Dinkes Kulon Progo menilai penemuan kasus secara cepat menjadi salah satu kunci menekan risiko kematian akibat leptospirosis. Pasien yang terinfeksi dapat mengalami kondisi berat apabila penyakit berkembang hingga menimbulkan komplikasi, termasuk gangguan ginjal dan hati.

Eko menekankan pentingnya pemeriksaan dan penanganan medis sedini mungkin. Antibiotik yang tepat dapat diberikan berdasarkan penilaian tenaga kesehatan untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat.

"Kalau berat itu kalau sudah terjadi komplikasi di ginjal dan hati. Jadi sebelum itu, asal segera ditemukan kasusnya, gejalanya belum kelihatan sekali tanda-tanda sepsis, segera kita kasih antibiotik karena tingkat keberhasilannya tinggi," terangnya.

Gejala leptospirosis dapat menyerupai penyakit lain. Demam, sakit kepala, dan nyeri otot merupakan sejumlah gejala yang perlu diwaspadai, terutama jika muncul setelah seseorang terpapar air atau tanah yang berpotensi tercemar. Masyarakat yang mengalami gejala tersebut sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.  

Dinkes Dorong Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Menurut Eko, ketersediaan obat dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan telah mencukupi. Tantangan yang masih dihadapi adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk menjaga lingkungan dari risiko pencemaran urine tikus.

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah dan lingkungan, mengendalikan keberadaan tikus, serta menghindari kontak langsung dengan air atau tanah yang berpotensi tercemar. Petani dan pekerja yang beraktivitas di lingkungan berisiko juga perlu menggunakan alas kaki dan perlindungan yang sesuai.

"Penanganan utamanya, terutama harus segera ditemukan kasus ini, setelah ditemukan harus segera diobati dengan antibiotik yang tepat. Dan fokus hari ini bagaimana kita menangani perilaku masyarakat terhadap perilaku hidup bersih sehatnya," pungkas Eko.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online