Kemarau Panjang, Kemenag Kulonprogo Gelar Salat Istisqa

Khairul Ma\'arif
Khairul Ma\'arif Kamis, 22 Oktober 2026 22:57 WIB
Kemarau Panjang, Kemenag Kulonprogo Gelar Salat Istisqa

Pelaksanaan salat istisqa di Lapangan Pengasih, Kamis (22/10/2026) yang dilakukan Kantor Kemenag Kulonprogo untuk mengharap turunnya hujan. /Istimewa.

Harianjogja.com, KULONPROGO—Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kulonprogo berdampak pada ketersediaan air bersih dan aktivitas pertanian. Di tengah kondisi tersebut, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kulonprogo menggelar salat istisqa di Lapangan Pengasih, Kamis (22/10/2026), sebagai ikhtiar memohon turunnya hujan kepada Allah SWT.

Salat istisqa yang diikuti ratusan warga dari berbagai kalangan itu dipimpin langsung oleh Kepala Kantor Kemenag Kulonprogo, Wahib Jamil, sebagai imam.

Wahib mengatakan kemarau panjang dapat dipengaruhi berbagai faktor alam, mulai dari berkurangnya curah hujan hingga perubahan pola angin dan musim. Fenomena iklim seperti El Nino, perubahan iklim jangka panjang, kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, serta penggunaan air yang tidak bijaksana juga dapat memperburuk kondisi tersebut.

“Secara ilmu alam, kemarau panjang dapat terjadi karena berkurangnya curah hujan, pergeseran pola angin dan musim, pengaruh fenomena iklim seperti El Nino, serta perubahan iklim jangka panjang. Kondisi tersebut dapat diperparah oleh kerusakan hutan, berkurangnya daerah resapan air, dan penggunaan air yang tidak bijaksana,” ujar Wahib Jamil kepada wartawan, Kamis (22/10/2026).

Kemarau Jadi Momentum Muhasabah

Menurut Wahib, faktor alam perlu dipahami agar masyarakat dapat mengupayakan solusi yang tepat. Namun, dari perspektif keimanan, kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk melakukan introspeksi diri atau muhasabah.

Ia mengajak masyarakat memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, sesama manusia, dan alam. Wahib merujuk Surah Ar-Rum ayat 41 yang mengingatkan bahwa perilaku manusia dapat menimbulkan kerusakan di bumi.

Meski demikian, ia mengingatkan masyarakat agar tidak serta-merta menganggap setiap peristiwa kemarau sebagai hukuman atas dosa individu atau kelompok tertentu.

“Namun, kita tidak boleh memastikan bahwa setiap kemarau merupakan hukuman atas dosa orang atau kelompok tertentu. Musibah dapat menjadi ujian, peringatan, sekaligus kesempatan untuk memperbaiki diri,” imbuh Wahib.

Istighfar dan Taubat Disertai Perbaikan Perilaku

Wahib menyampaikan tiga ikhtiar penting yang perlu dilakukan masyarakat, yakni menyadari kesalahan, memperbanyak istighfar, dan bertaubat kepada Allah SWT.

Menurutnya, sebelum memohon hujan, manusia perlu merendahkan hati, mengakui kelemahan, serta memohon ampun atas dosa dan kesalahan yang telah dilakukan.

“Mungkin selama ini kita kurang bersyukur atas nikmat air. Kita menggunakan air secara berlebihan, mengabaikan kebersihan lingkungan, merusak alam, atau melalaikan kewajiban kepada Allah dan sesama manusia. Istighfar dan taubat merupakan jalan untuk kembali kepada Allah serta mengharapkan rahmat dan pertolongan-Nya,” terang Wahib Jamil.

Ia menegaskan taubat tidak cukup hanya diucapkan secara lisan. Taubat juga harus disertai penyesalan dalam hati, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad tidak mengulanginya, serta mengembalikan hak orang lain apabila pernah melakukan kezaliman.

Wahib pun mengajak masyarakat memperbaiki perilaku, meningkatkan ketaatan, dan menjaga kelestarian lingkungan melalui tindakan nyata.

“Mari kita mulai dari hal-hal sederhana: menggunakan air secukupnya, menjaga sumber mata air, menanam dan merawat pohon, melindungi hutan, menjaga daerah resapan air, tidak membuang sampah sembarangan, serta tidak merusak lingkungan. Kita juga harus meningkatkan ketaatan kepada Allah, memperbaiki hubungan antarsesama, membantu warga yang kesulitan air, dan berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Jangan sampai kita hanya meminta Allah menurunkan hujan, tetapi kita sendiri tidak mau menjaga bumi yang menjadi tempat turunnya rahmat-Nya,” jelas Wahib Jamil.

Ikhtiar Mengatasi Kekeringan Perlu Dilakukan Bersama

Wahib menilai ilmu pengetahuan dan teknologi memiliki peran penting dalam menghadapi kekeringan. Ilmu pengetahuan membantu manusia memahami kondisi cuaca, sedangkan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengelola sumber daya air.

Kerja sama masyarakat juga diperlukan agar penanganan kekeringan dapat dilakukan secara bersama-sama. Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa segala sesuatu tetap berada dalam kekuasaan Allah SWT.

"Maka hari ini, marilah kita menengadahkan tangan dengan penuh kerendahan hati. Kita datang bukan karena merasa suci, melainkan karena menyadari banyaknya kekurangan. Kita memohon bukan karena merasa berhak, melainkan karena sangat membutuhkan kasih sayang Allah,” ucap Wahib.

Melalui salat istisqa dan ajakan menjaga lingkungan, masyarakat diharapkan tidak hanya memohon turunnya hujan, tetapi juga melakukan upaya nyata untuk menjaga ketersediaan air dan membantu warga yang terdampak kekeringan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online