Dari Pupuk hingga Nelayan, Relawan Anggota DPR Totok Daryanto Serap Keluhan Warga
Totok Daryanto mengukuhkan hampir 1.000 relawan di Kulonprogo untuk menyerap aspirasi warga dan mengawal persoalan masyarakat hingga DPR RI.
Foto ilustrasi kekeringan. - Magnific
Harianjogja.com, KULONPROGO— Kemarau panjang di Kulonprogo tak hanya menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih, tetapi juga membuat pepohonan mengering hingga meningkatkan risiko kebakaran lahan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat 86 kejadian kebakaran lahan dan hutan sepanjang 2026, lebih banyak dibandingkan kebakaran gedung dan permukiman yang mencapai 64 kejadian.
Berdasarkan pantauan Harian Jogja baru-baru ini, dampak kekeringan terlihat di Kalurahan Sidomulyo, Kapanewon Pengasih. Pepohonan yang biasanya rindang kini kehilangan banyak daun dan dahan, sementara aliran Kali Tedunan yang melintasi wilayah tersebut mengering.
Kondisi pepohonan yang semula berwarna hijau berubah menjadi kering dan menguning. Rontoknya daun serta dahan membuat tajuk pohon tampak gundul sehingga sinar matahari langsung menyengat area di sekitarnya.
Kali Tedunan juga tidak lagi dialiri air. Di sejumlah sudut sungai hanya tersisa beberapa kubangan dengan volume air yang relatif sedikit.
Kebakaran Lahan di Kulonprogo Meningkat Sejak Juli
Kepala BPBD Kulonprogo, Setiawan Tri Widada, mengatakan musim kemarau berkepanjangan menyebabkan vegetasi mengering dan berguguran. Kondisi tersebut membuat lahan lebih rentan terbakar, bahkan akibat percikan api yang kecil.
"Kemarau panjang juga bikin daun mengiring, rontok dan sejumlah tanpa air," ujar Setiawan saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Ia mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), mengingat pepohonan serta vegetasi yang mengering mudah tersulut api.
"Sehingga masyarakat harus mewaspadai kebakaran lahan dan hutan," lanjutnya.
Menurut Setiawan, kebakaran lahan dan hutan mendominasi kejadian kebakaran di Kulonprogo sepanjang 2026. Sebaliknya, kebakaran gedung dan permukiman tercatat lebih sedikit.
Data BPBD Kulonprogo menunjukkan peningkatan kebakaran lahan terjadi ketika musim kemarau berlangsung. Pada awal tahun, kejadian kebakaran lahan belum mendominasi karena wilayah tersebut masih mengalami musim hujan.
"Diawal 2026 kebakaran lahan belum dominan karena masih musim hujan, jumlah kebakaran lahan melonjak mulai Juli, Agustus sempat turun tetapi sebulan setelahnya kembali naik," ungkapnya.
Rincian kejadian kebakaran lahan selama periode tersebut menunjukkan perubahan jumlah yang cukup besar. Pada Juli, kebakaran lahan tercatat sebanyak 13 kali, kemudian turun menjadi delapan kejadian pada Agustus.
Namun, jumlahnya kembali meningkat pada September dengan 32 kejadian. Memasuki Oktober, BPBD Kulonprogo mencatat 27 kejadian kebakaran lahan.
Secara keseluruhan, sejak awal 2026 hingga 22 Oktober 2026, kebakaran lahan dan hutan di Kulonprogo mencapai 86 kejadian, sedangkan kebakaran gedung dan permukiman tercatat 64 kejadian.
Kekeringan Belum Berakhir, 685 Tangki Air Telah Disalurkan
Di tengah meningkatnya risiko kebakaran, persoalan kekeringan di Kulonprogo juga belum teratasi. BPBD Kulonprogo masih menerima permintaan penyaluran air bersih setiap hari untuk membantu masyarakat di sejumlah wilayah yang mengalami kekurangan air.
Setiawan menyebutkan, hingga data terakhir yang disampaikan, total bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 685 truk tangki. Volume air yang didistribusikan mencapai 3.425.000 liter.
"Data terakhir kami total sudah 685 truk tangki dengan jumlah volume 3.425.000 liter air yang disalurkan," ucapnya.
Penyaluran air bersih tersebut menjangkau delapan kapanewon dengan total 201 titik distribusi. Bantuan tidak hanya dilakukan oleh BPBD Kulonprogo, tetapi juga melibatkan berbagai unsur lintas sektoral.
Dari seluruh wilayah penerima bantuan, Kalurahan Kalirejo dan Giripurwo tercatat sebagai lokasi dengan penyaluran air bersih terbanyak sejauh ini.
"Kalirejo 78 tangki sedangkan Giripurwo 71 tangki air yang sudah disalurkan," ungkap Setiawan.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan yang masih berlangsung, status siaga bencana kekeringan di Kulonprogo telah ditetapkan hingga akhir Desember 2026.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat menghadapi dua dampak kemarau yang masih berlangsung, yakni keterbatasan air bersih dan meningkatnya risiko kebakaran lahan akibat vegetasi yang mengering.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Totok Daryanto mengukuhkan hampir 1.000 relawan di Kulonprogo untuk menyerap aspirasi warga dan mengawal persoalan masyarakat hingga DPR RI.
Komisi D DPRD Gunungkidul berharap UMK 2027 disesuaikan dengan biaya hidup, kemampuan perusahaan, dan formula pengupahan yang berlaku.
Disdik Sleman merehabilitasi 15 SMP negeri pada 2026 dengan anggaran Rp2,2675 miliar. Kerusakan bangunan didominasi atap dan kayu keropos akibat rayap.
Prabowo memerintahkan ESDM, Pertamina, dan Danantara memeriksa kontrak distribusi minyak setelah keterlambatan pasokan di Bali.
DPC PDIP Kota Jogja menggelar kaderisasi bagi 64 peserta di Kaliurang untuk memperkuat ideologi, disiplin, dan komitmen memperjuangkan rakyat.
Bulog Banyumas menyalurkan 31.904,3 ton beras SPHP sepanjang 2026. Stok beras di gudang mencapai 61.000 ton untuk menjaga stabilitas harga.