Nilai UASBN Bantul Merosot

Rheisnayu Cyntara
Rheisnayu Cyntara Jum'at, 09 Juni 2017 17:55 WIB
Nilai UASBN Bantul Merosot

JIBI/Solopos/Septian Ade Mahendra Siswa kelas II mengerjakan soal ujian tengah semester di SD Negeri Ngoresan 80, Solo, Senin (10/3). Ujian tengah semester untuk siswa SD di Kota Solo dimulai serentak pada 10 hingga 13 Maret 2014.

Nilai hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Bantul merosot

Harianjogja.com, BANTUL--Nilai hasil Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) tingkat Sekolah Dasar Kabupaten Bantul merosot. Tahun ini nilai keseluruhan dari tiga mata pelajaran yaitu Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA hanya mencapai 210, 58 dibandingkan rata-rata tahun lalu yang mencapai 229, 35.

Menurut data yang didapat staff Sub Bagian Program Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dikpora) Bantul Sudarto, peserta UASBN SD yang berjumlah 11.776 siswa, lulus 100%.

Untuk peringkat, Bantul masih di peringkat ke empat sama seperti tahun lalu dengan susunan Sleman, Kota Yogyakarta, Kulonprogo, Bantul, Gunungkidul. "Tahun ini nilai seluruh kabupaten kota merosot semua," ujarnya pada Jumat (9/6/2017).

Namun salah satu siswa SD Kanisius Ganjuran yaitu Tyasadwi Bumi meraih nilai tertinggi kedua di seluruh DIY dengan nilai 287,5. Sedangkan untuk peringkat 1-3 SD di Bantul dipegang oleh SD 1 Donotirto (Kretek), SD Gandok (Sewon), SD Kanisius Pijenan (Pandak).

Menanggapi merosotnya nilai tersebut, Kepala Dikpora Bantul Didik Warsita berjanji akan mengambil beberapa kebijakan yang dapat mendorong prestasi akademik sehingga dapat meningkat setiap tahunnya. Misalnya dengan mengaktifkan kembali jam wajib belajar masyarakat.

Selain itu ada tiga program utama yang akan dilakukan Dikpora yaitu meningkatkan keterlibatan orang tua, peningkatan kapasitas guru dan perbaikan metodologi mengajar.

Menurutnya meskipun orang tua tidak bisa membimbing anaknya belajar namun mereka dapat membantu menciptakan situasi belajar yang kondusif. Peningkatan kapasitas guru akan dilakukan dengan mengadakan bimbingan teknis (bimtek) dan beberapa pelatihan.

Adapun perbaikan metodologi mengajar dirasa penting agar anak didik merasa lebih mudah memahami pelajaran yang diberikan oleh guru. "Tiga program ini akan melibatkan seluruh komponen pendukung baik keluarga, masyarakat, pemerintah juga dari pihak swasta," katanya.

Hal senada dikatakan Wakil Bupati Bantul, Abdul Halim Muslich yang mengaku telah berkoordinasi dengan Dikpora untuk melakukan review program dan kegiatan sebagai upaya peningkatan prestasi akademis sekolah-sekolah di Kabupaten Bantul. "Ini akan jadi cambuk buat kami agar lebih baik lagi," ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online