Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Satuan Polisi Pamong Praja DIY akan segera mengintensifkan operasi penertiban untuk menjaring gelandangan dan pengemis
Harianjogja.com, JOGJA--Satuan Polisi Pamong Praja DIY akan segera mengintensifkan operasi penertiban untuk menjaring gelandangan dan pengemis (gepeng) yang biasanya semakin banyak menjelang Hari Raya Idul Fitri.
“Patroli akan kami intensifkan H-10 Idul Fitri karena biasanya gepeng banyaknya menjelang Idul Fitri, kalau awal bulan puasa itu masih normal. Operasi penertiban akan diintensifkan di permukiman dan tempat ibadah,” ujar Kepala Bidang Penegakan Perundang-undangan Satpol PP DIY, Lilik Andi Ariyanto, ketika dihubungi Selasa (13/6/2017).
Meningkatnya jumlah gepeng menjelang Idul Fitri, menurutnya terjadi karena pada hari-hari tersebut orang biasanya sedang rajin-rajinnya beramal dan berzakat.
Ia mengatakan keberadaaan gepeng di DIY sangat sulit dihapus, padahal Satpol PP DIY telah melakukan operasi penertiban gepeng setiap bulan.
“Setiap bulan bisa dua sampai tiga kali operasi. Setiap operasi pasti menertibkan 10 sampai 15 orang, termasuk orang gila juga.” jelasnya.
Sementara untuk operasi penertiban yang dilakukan Satpol PP DIY dari Januari sampai Mei 2017, ada sekitar 120 gepeng yang terjaring. 120 gepeng tersebut, imbuh Lilik, sudah diserahkan ke Dinas Sosial untuk mendapatkan pembinaan.
Untuk menghindari operasi penertiban, gepeng saat ini, kata Lilik punya modus operandi baru. Ia mengatakan gepeng saat ini tidak suka mangkal di perempatan jalan karena sudah tahu tempat tersebut sering menjadi sasaran operasi dan pengendara sudah enggan memberikan uang.
Menurut Lilik, gepeng sekarang lebih suka beroperasi didaerah permukiman dan perkampungan serta selalu berpindah-pindah untuk menghindari operasi penertiban.
“Biasanya paling banyak memang di dalam Ring Road, tapi mereka sering pindah-pindah. Misalnya di Prambanan rame, setelah ditindak pindah ke Ring Road Utara, setelah di cari ke Ring Road, pindah lagi ke Jalan Magelang," katanya.
Lilik mengatakan gepeng sulit ditindak karena tindakan mengemis bagi pelakunya sudah menjadi perilaku dan kebiasaan. Kesimpulan ini didapat Lilik setelah dirinya kerap kali menjaring gepeng yang sama berkali-kali.
Penyebab lain menurutnya adalah habit masyarakat yang masih merasa tidak tega ketika melihat keberadaan gepeng, sehingga langsung memberi uang begitu saja saat ada gepeng yang meminta-minta.
“Kalau untuk menghilangkan semuanya susah, karena faktor-faktor di atas. Yang bisa adalah keberadaanya diminimalisir dengan operasi penertiban,” jelas Lilik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Leo/Daniel juara Thailand Open 2026 usai kalahkan pasangan India. Kemenangan ini jadi momentum menuju Olimpiade 2028.
Ratusan warga Seloharjo Bantul menolak mantan dukuh kembali menjabat. Gugatan ke PTUN picu aksi dan pemasangan spanduk protes.
Presiden Prabowo beli sapi Brahman 1,2 ton dari Boyolali untuk kurban Iduladha 2026. Simak daftar sapi pilihan dari berbagai daerah.
Kinerja perbankan nasional tetap kuat di tengah tekanan global. Kredit tumbuh 9,49% dan bank BUMN jadi penopang utama ekonomi.
Ingin merencanakan kehamilan? Simak faktor penting seperti usia, kesehatan, dan gaya hidup yang memengaruhi kesuburan.