Kredit Konsumsi Naik, BPR Perlu Antisipasi Potensi NPL

Holy Kartika Nurwigati
Holy Kartika Nurwigati Senin, 10 Juli 2017 12:57 WIB
Kredit Konsumsi Naik, BPR Perlu Antisipasi Potensi NPL

One hundred thousand rupiah notes are seen through a magnifying glass in this photo illustration taken in Singapore, in this file picture taken March 14, 2013. Banks in Singapore are stubbornly against adopting domestically set reference rates for derivative contracts in the Indonesia rupiah, despite preparing to drop their own rate fixing for the Malaysian ringgit and Vietnamese dong. To match Analysis MARKETS-INDONESIA/FIXING REUTERS/Edgar Su/Files (SINGAPORE - Tags: BUSINESS)

Peningkatan kredit konsumsi yang diajukan nasabah perlu dicermati secara tepat, terutama di kalangan industri bank perkreditan rakyat

Harianjogja.com, JOGJA-Peningkatan kredit konsumsi yang diajukan nasabah untuk keperluan lebaran dan memasuki tahun ajaran baru ini perlu dicermati secara tepat, terutama di kalangan industri bank perkreditan rakyat. Hal itu dilakukan sebagai upata untuk menekan potensi kredit macet atau non performing loan (NPL).

"Kami memang belum bisa mengukur potensi NPL, karena kami juga baru mencairkan dananya. Namun kalau kredit yang sifatnya konsumtif, memang harus diantisipasi," ujar Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) DIY, Ascar Setiyono, Jumat (7/7/2017) lalu.

Ascar mengungkapkan sepanjang nasabah yang mengajukan kredit konsumsi tersebut masih memiliki penghasilan yang tetap, potensi NPL sangat memungkinkan untuk ditekan. Namun, kondisinya akan berbeda apabila dana yang diajukan digunakan untuk keperluan yang insidentil atau spekulatif, yakni hanya pada momen tertentu saja.

"Kalau misalnya dana itu hanya digunakan untuk Lebaran, saya kira peluang NPL bisa jadi lebih tinggi," imbuh Ascar.

Mencegah peluang meningkatkan NPL, Ascar mengungkapkan upaya antisipasi telah dilakukan. Di antaranya dengan analisa penggunaan kredit yang diajukan oleh nasabah. Analisa tersebut sifatnya tidak spekulatif, yakni hanya sebatas penggunaan saat Lebaran tanpa mencermati sumber dana pengembalian, baik pascalebaran maupun dalam waktu yang pendek ini.

"Kami meyakini, apabila analisa ini dijalankan, maka kenaikan NPL tidak akan tinggi," kata Ascar.

Analisa penggunaan, kata Ascar, juga penting untuk dilakukan saat menerima pengajuan kredit konsumsi dari nasabah. Di mana penggunaan dana ini perlu diketahui untuk mengantisipasi risiko yang akan dialami bank saat nasabah tidak dapat mengembalikan dana tersebut.

Ascar menjelaskan analisa penggunaan terhadap kredit diperlukan, sehingga bank dapat mengetahui dana ini akan digunakan untuk apa. Hal itu dilakukan supaya tujuan penggunaan awal dengan penggunaan yang sesungguhnya itu memang sesuai.

"Karena orang cenderung akan menyediakan dana berlebih untuk lain-lain. Bank perlu tahu, dana itu untuk apa. Sehingga ketika nanti proses penyaluran dana ini diberikan, ada monitoring. Untuk melihat kembali, apakah tujuan penggunaan awal sesuai," jelas Ascar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online