Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Seorang petani asal Juwiring menaburkan pupuk ke tanaman padinya di areal sawahnya, Senin (11/5/2015). Selama memasuki MT II, sejumlah petani di Klaten mengaku kesulitan memperoleh pupuk bersubsidi. (Ponco Suseno/JIBI/Solopos)
16 anggota Kelompok Tani Ngudirejo, Kampung Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo menggarap lahan yang bukan milik mereka
Harianjogja.com, JOGJA--Lahan persawahan seluas, kurang lebih, 5 hektare yang selama ini menjadi tumpuan hidup 16 anggota Kelompok Tani Ngudirejo, Kampung Tegalrejo, Kecamatan Tegalrejo, ternyata bukanlah milik mereka sendiri. Sekitar 90% lahan ini dimiliki oleh perusahaan yang berasal dari Magelang, Jawa Tengah.
Ketua Kelompok Tani Ngudirejo, Sugianto menyampaikan lahan persawahan di kampungnya mulai menyusut sejak tahun 1980-an, dan lahan yang tersisa kini hampir semuanya dimiliki oleh perusahaan dari luar daerah.
“Dari dulu kami memang hanya sekedar jadi buruh tani, dulu memang masih ada yang punya lahan sendiri tapi sekarang enggak. 90 persen dikuasai perusaahan, sisanya dimiliki oleh perorangan yang bukan petani, kami juga yang dibiarkan menggarap,” jelas Sugianto kepada para wartawan saat berlangsungnya acara Wiwitan, Senin (10/7/2017).
Sugianto mengatakan sistem yang diberlakukan antara pemilik lahan dan anggotanya adalah sistem bagi hasil. Jadi antara penggarap dan pemilik mendapatkan jatah masing-masing 50% saat panen tiba. Tapi untuk modal penanaman dikeluarkan semuanya oleh penggarap. Pemilik tinggal menerima hasil saja.
Ia mengatakan dirinya saat ini tidak lagi memiliki harapan memiliki lahan sendiri. Sugianto hanya berharap ketika kelak lahan persawahan dialihfungsikan menjadi hotel, atau semacamnya, 16 petani bisa dijadikan karyawan.
“Dulu sempet tersiar kabar, lahan ini mau dijadikan hotel atau apa gitu. Harapannya ya kami [petani] bisa dijadikan karyawan, terserah dijadikan apa. Karena lahan ini penghasilan kami satu-satunya. Itu satu-satunya harapan saya,” imbuh Sugianto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
KPK memeriksa pejabat Bea Cukai dan pengusaha terkait dugaan aliran uang korupsi serta pengembangan kasus suap impor barang di Kemenkeu.
SIM keliling Sleman 19 Mei 2026 hadir di Mitra 10, termasuk layanan malam di Sleman City Hall untuk perpanjangan SIM A dan C.
Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo dorong skrining kesehatan mental siswa usai kasus klitih yang menewaskan pelajar di depan SMAN 3 Jogja.
Jadwal SIM keliling Jogja hari ini hadir di Alun-Alun Kidul dan layanan drive thru di Mal Pelayanan Publik Kota Jogja.
KAI Daop 6 Yogyakarta mencatat 246 ribu penumpang KAJJ selama libur Kenaikan Yesus Kristus, naik 189 persen dari pekan sebelumnya.