Jogja Tak Miliki Pelabuhan Muat, Ekspor Mei 2017 Naik 12,13%

Holy Kartika Nurwigati
Holy Kartika Nurwigati Rabu, 12 Juli 2017 07:22 WIB
Jogja Tak Miliki Pelabuhan Muat, Ekspor Mei 2017 Naik 12,13%

Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2017 mengalami surplus US$1,40 miliar atau sekitar Rp18,66 triliun. Surplus perdagangan itu dipicu meningkatnya nilai ekspor Indonesia sebesar 27,71%. Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang, Jawa Tengah (Jateng) dengan kemudahan bongkar muat di Terminal Peti Kemas Semarang (TPKS) yang aktivitasnya didokumentasikan Kantor Berita Antara, Rabu (8/3/2017), turut berperan dalam peningkatan nilai ekspor tersebut. (JIBI/Solopos/Antara/Adit

Ekspor barang dari DIY pada bulan Mei 2017 mengalami kenaikan 12,13% dari bulan sebelumnya

 
Harianjogja.com, JOGJA-Ekspor barang dari DIY pada bulan Mei 2017 mengalami kenaikan 12,13% dari bulan sebelumnya dengan nilai ekspor mencapai 35,02 juta dolar. Kendati demikian, potensi nilai ekspor DIY bisa mencapai lebih dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) DIY.

"Selama ini BPS hanya mendata produk ekspor yang dikirim melalui Jogja. Namun, ternyata banyak banyak perusahaan-perusahaan yang mengirimkan barangnya melalui beberapa pelabuhan di Indonesia," ujar Kabid Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY, Rahayu Sri Lestari kepada Harianjogja.com, Selasa (11/7/2017).

Yayuk mengugkapkan banyak perusahaan yang mengirimkan produknya ke luar negeri melalui pelabuhan di Semarang atau kota lainnya yang memiliki akses perdagangan lebih luas. Padahal, kata Yayuk potensi ekspor DIY sangat banyak dan cukup luas.

Untuk itu, ekspor DIY mestinya dapat terus didorong untuk dapat meningkatkan jejaring pasar yang lebih luas. Di samping kebijakan-kebijakan tentang perdagangan di luar negeri sering berubah begitu cepat, pelaku usaha juga perlu aktif untuk mencari informasi terkait persoalan ekspor ini.

"Sebetulnya kendala ekspor di Jogja tidak terlalu besar. Hanya saja Jogja tidak memiliki pelabuhan muat. Namun demikian, dengan adanya perusahaan-perusahaan logistik yang ada, diharapkan mampu memfasilitasi pengiriman produk-produk lokal Jogja ke mancanegara. Di samping itu diharapkan pengembangan infrastruktur ke depannya dapat segera direalisasikan," jelas Yayuk.

Kepala BPS DIY, JB Priyono menambahkan nilai ekspor DIY menunjukkan pertumbuhan positif pada Mei lalu. Kenaikan nilai ekspor naik sebesar 12,13% dengan nilai 35,02 juta dolar. Sedangkan pada bulan April lalu, nilai eksport yang tercatat hanya mencapai 31,2 juta dolar.

"Dibandingkan setahun yang lalu, secara kumulatif Januari sampai Mei 2016, nilai ekspor mengalami kenaikan sebesar 19,9 persen," imbuh Priyono.

Priyono memaparkan ekspor DIY menyasar sejumlah negara di dunia. Tiga negara utama tujuan ekspor DIY di antaranya Amerika Serikat dengan konstribusi mencapai 38,86%, Jerman dengan kontribusi sebesar 14,06% dan ekspor ke Jepang sebesar 6,56%.

Lebih lanjut Priyono mengatakan perkembangan nilai ekspor terbesar DIY pada Mei 2017 terhadap April 2017 sebesar 36,13% dengan tujuan negara yakni ke Amerika Serikat. Namun secara year on year, paling banyak ekspor DIY dikirim ke Spanyol dengan peningkatan sebesar 112,42%.

"Meski demikian, pada Mei 2017, ekspor DIY ke kawasan Asean justru mengalami penurunan sebesar 32,91 persen dibandingkan bulan lalu. Untuk komoditas ekspor utama yakni pakaian jadi bukan rajut, penerangan rumah dan barang-barang dari kulit," jelas Priyono.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online