JIBI/Harian Jogja/dokumen
Produksi keledai di DIY dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan
Harianjogja.com, JOGJA--Produksi keledai di DIY dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Keengganan petani dalam menanam kedelai disinyalir sebagai penyebab utama. Petani lebih memilih menanam jagung, kacang tanah, dan cabai karena lebih menguntungkan.
Dari data yang ada di Dinas Pertanian DIY, sejak tahun 2010 produksi kedelai terus mengalami penuruan. Produksi kedelai pada tahun itu adalah 38.244 ton. Angka itu menurun jadi 32.795 ton pada tahun berikutnya.
Tahun 2012 produksi kedelai sempat naik ke angka 36.033 ton.
Setelah itu praktis produksi kedelai terus menerus menurun. Pada 2013 produksinya sebanyak 31.677. Kemudian turun drastis jadi 19.597 ton di tahun 2014, 18.822 ton tahun 2015, dan 16.763 ton di tahun 2016.
Penurunan produksi kedelai karena dipicu oleh penurunan luas panen. Dari tahun 2010 sampai tahun 2016, luas lahan panen terus menurun. Dari 33.572 hektar menjadi hanya 12.990 hektar.
Kepala Dinas Pertanian DIY, Sasongko mengatakan para petani enggan menanam kedelai karena menganggap komoditas lain seperti jagung dan kacang tanah jauh lebih menguntungkan.
“Petani melihat keuntungan menanam kedelai kecil, sehingga beralih ke kacang tanah dan jagung. Kacang tanah bukan program kesejahteraan nasional tapi cukup menguntungkan bagi petani karena konsumennya banyak. Banyak pengrajin peyek soalnya,” jelasnya Senin (10/7/2017).
Menurut Sasongko faktor yang juga membuat para petani enggan menanam kedelai adalah karena kedelai bukan tanaman asli Indonesia. Ia menyebut di negara sub tropis tanaman kedelai bisa berumur panjang sampai 4 bulanan, tapi di Indonesia hanya 3 bulan.
“Dipicu lagi pengerajin tahu tempe, terutama tempe, lebih suka keledai impor karena ukuranya lebih besar. Kami belum mendapatkan benih kedelai yang bijinya besar-besar,” jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: