Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Anggota Ditsabhara Polda DIY bersiap dengan sepeda untuk melakukan patroli bersepeda jelang perayaan malam pergantian tahun, Rabu (30/13/2015). (Sunartono/JIBI/Harian Jogja)
Kota Sepeda tidak lagi terasa di Jogja
Harianjogja.com, JOGJA -- Sejumlah pegiat sepeda mengamini pendapat Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menyayangkan hilangnya rutinitas bersepeda di Jogja. Menurut mereka predikat Jogja sebagai Kota Sepeda hanya sekedar kenangan masa lalu. Pemerintah Kota saat ini dianggap kurang pro terhadap pesepeda.
Pendiri Komunitas sepeda Pit Propaganda (Pitpaganda) Jamaluddin Latif mempertanyakan keberadaan jargon yang menyebut Jogja sebagai Kota Sepeda. Baginya jargon tersebut hanya kenangan manis di masa lalu dan saat ini sudah tidak tepat lagi untuk digembar-gemborkan karena tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
“Jargon diproduksi dan dipublish sesungguhnya karena fenomena di masyarakat memang berlangsung demikian. Misal, Jogja sebagai kota pendidikan. Di Jogja memang banyak sekolah, kampus, dan banyak pelajar. Pemerintah Kota [Pemkot] Jogja juga memfasilitasi dan membangun infrastruktur. Dukungan fisik dan non fisik membantu jargon itu terwujud,” katanya melalui pesan WhatsApp, Sabtu (22/7/2017).
Dukungan yang sama, ucapnya, tidak dipraktikkan untuk mewujudkan jargon Jogja sebagai Kota Sepeda. Menurutnya dukungan Pemkot Jogja sangat minim seperti sedikitnya jalur sepeda, lemahnya keberpihakan pada visi green city, dan kurangnya kampanye tentang nilai-nilai positif bersepeda.
Jamaluddin Latif lebih setuju dengan jargon Jogja sebagai Kota Pesepeda karena baginya orang-orang Jogja memang suka bersepeda. Hanya saja ia menyebut sepeda belum dijadikan alat transportasi utama. Bersepeda masih sebatas kegiatan melepas penat dan menghibur diri karena itu banyak di lakukan di akhir pekan.
“Dulu mungkin iya [sebagai alat transportasi utama] tapi sekarang kenyataannya tidak. Kendaraan pribadi semakin memenuhi kota. Mungkin pesepeda akan bilang ‘sekarang susah bersepeda setiap hari, macet di jam kerja, sering ruang tunggu sepeda di serobot sepeda motor dan lain-lain’,” jelas Jamaluddin Latif.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menyayangkan hilangnya rutinitas bersepeda di Jogja. Hal itu ia sampaikan saat ditemui usai menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Pengendalian Pembangunan Daerah Triwulan ISI 2017 di Borobudur Hall Inna Garuda, Jumat (21/7/2017).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Kulonprogo masih aman dari kekeringan di awal kemarau 2026. BPBD siaga droping air bersih diperkirakan mulai Agustus.
Subaru membatalkan mobil listrik internal setelah laba operasional anjlok 90 persen akibat tekanan tarif impor Amerika Serikat.
Veda Ega unggul klasemen Moto3 2026 meski kalah top speed dari Hakim Danish. Duel keduanya makin ketat di lintasan.
Sharenting anak di media sosial berisiko kebocoran data, pelacakan lokasi, hingga pencurian identitas menurut studi Kaspersky dan SIT.
Google meluncurkan Gemini 3.5 Flash di Google I/O 2026. Model AI baru ini lebih cepat, murah, dan fokus mendukung era AI agent.