Miris! 1.200 Anak di Kulonprogo Putus Sekolah, Ini Datanya
Kasus anak tidak sekolah di Kulonprogo capai 1.200 orang. Faktor ekonomi hingga persepsi jadi penyebab utama.
Kekeringan - Ilustrasi StockCake
Harianjogja.com, KULONPROGO—Memasuki awal musim kemarau 2026, Kabupaten Kulonprogo masih belum terdampak kekeringan. BPBD setempat memastikan belum ada laporan permintaan bantuan air bersih, namun potensi kekeringan diperkirakan mulai muncul pada Agustus.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, Pemadam Kebakaran, dan Penyelamatan BPBD Kulonprogo, Eko Susanto, menyebut kondisi kebencanaan saat ini masih tergolong landai tanpa status kedaruratan. Status Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi sendiri telah berakhir pada 30 April 2026.
“Kondisinya masih landai tanpa status. Insyaallah dipastikan belum ada warga yang merasakan kekeringan,” ujarnya, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, belum munculnya dampak kekeringan dipengaruhi dua faktor utama, yakni masih adanya curah hujan yang sesekali turun di sejumlah wilayah serta penguatan mitigasi dan ketersediaan sarana prasarana air bersih.
Pemerintah Kabupaten Kulonprogo disebut telah mengoptimalkan pembangunan sumur dalam dan jaringan distribusi air melalui berbagai sumber pendanaan, mulai dari Dana Keistimewaan, APBD Kulonprogo, hingga APBD DIY.
Selain pemerintah daerah, mitigasi kekeringan juga diperkuat oleh berbagai pihak, termasuk dukungan lembaga nonpemerintah seperti Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) yang membantu pembangunan sumur dan jaringan distribusi air. Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup juga terus menjalankan program konservasi seperti pelestarian mata air dan penanaman pohon.
Meski kondisi saat ini masih aman, BPBD Kulonprogo tetap mengingatkan masyarakat agar waspada. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, permintaan bantuan air bersih biasanya mulai meningkat saat memasuki pertengahan musim kemarau.
“Berkaca dari tahun lalu, bulan Mei memang kecenderungannya belum ada permintaan. Kekeringan biasanya mulai terjadi sekitar bulan Agustus,” kata Eko.
Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi kekeringan tetap ada di wilayah Kulonprogo pada musim kemarau tahun ini. Untuk mengantisipasi, BPBD telah menyiapkan anggaran setara 20 tangki bantuan air bersih yang sewaktu-waktu dapat dikerahkan sesuai kebutuhan.
“Untuk bersiaga, di anggaran BPBD saat ini disiapkan 20 tangki air untuk dropping. Jumlah ini akan menyesuaikan situasi ke depan,” ujarnya.
Sementara itu, Lurah Jatimulyo Anom Sucondro menilai belum munculnya kekeringan juga dipengaruhi perubahan pola pengelolaan air masyarakat. Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) disebut berjalan efektif dengan melibatkan kelompok masyarakat dan pengelola sistem air di tingkat pedukuhan.
Ia mencontohkan optimalisasi sumber mata air Semitro yang kini mampu melayani hingga beberapa pedukuhan, setelah sebelumnya hanya dimanfaatkan terbatas oleh kelompok kecil.
“Sekarang bisa melayani hingga delapan pedukuhan dari satu sumber mata air,” ujarnya.
Dengan penguatan infrastruktur dan kesadaran masyarakat tersebut, sistem pengelolaan air diharapkan tetap mampu menjaga ketahanan air Kulonprogo, meski musim kemarau mulai berlangsung.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus anak tidak sekolah di Kulonprogo capai 1.200 orang. Faktor ekonomi hingga persepsi jadi penyebab utama.
Tawuran pelajar kembali pecah di dekat Stadion Mandala Krida, Jogja. Polisi menyebut aksi dipicu provokasi kelompok pelajar.
Siswa Sekolah Rakyat Gunungkidul masih belajar di luar daerah karena lahan belum tersedia, kuota terbatas
Jadwal puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 jatuh 25–26 Mei berdasarkan penetapan awal Zulhijah Kemenag
361 jemaah haji Gunungkidul dipastikan sehat dan siap menjalani puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina
Ducati jual fairing asli MotoGP GP25 Márquez dan Bagnaia lewat MotoGP Authentics untuk kolektor