PETERNAKAN SLEMAN : Merapi Project Dipastikan Tetap Berjalan

Sekar Langit Nariswari
Sekar Langit Nariswari Sabtu, 02 September 2017 18:22 WIB
PETERNAKAN SLEMAN : Merapi Project Dipastikan Tetap Berjalan

Ilustrasi sapi perah (Endang Muchtar/JIBI/Bisnis)

Peternakan Sleman, Merapi Project tetap berusaha mewadahi peternak

Harianjogja.com, SLEMAN -- Peternak peserta Program Merapi Project dipastikan bebas dari tanggungan utang. Program ini juga diyakinkan tetap berjalan meski ada sejumlah peternak yang mengundurkan diri.

Operation Director PT Sarihusada Generasi Maharadika (SGM), Rizki Raksanugraha mengatakan tidak ada halangan apapun dari pihaknya jika peternak ada yang mengundurkan diri. Meski demikian, kesempatan tetap terbuka lebar bagi masyarakat yang ingin bergabung dengan program ini.

"Merapi Project tetap berjalan sesuai tujuan utamanya," ujarnya, Jumat (1/9/2017).

Tujuan utama dari program ini ialah pemberdayaan warga paska-erupsi Merapi pada 2010. Ia juga menambahkan jika tidak ada batasan bagi peternak untuk menjual susu hasil perahannya. Maksudnya, petenak bebas menjual susu hasil perahan pada siapa saja meski perusahaanya yang menaungi prgram ini.

Selama ini susu dengan kualitas baik dihargai Rp5.000 per liter. Guna menjaga kualitas produk dan produktivitas susu sapi juga pihak perusahaan menyediakan pendampingan melalui pihak ketiga. Adapun, Merapi Project juga memiliki program satelit bernama Farming Indcome Generate Activities melalui pengolahan produk mentah salah satunya pemanfaatan susu pasturisasi dan kotoran sapi menjadi pupuk kompos. Ia juga menguraikan jika Merapi Project bersifat sukarela dengan fasilitator dari Pemerintah Daerah (Pemda) DIY dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman.

Sebagaimana diketahui, sebelumnya sejumlah peternak warga Plosorejo, Umbulharjo dan Pagerharjo, Kepuharjo mengeluhkan nasibnya ke pemkab yang terlilit hutang ke pihak perbankan. Sejumlah masalah muncul dalam penyelenggaraannya sehingga produktivitas susu sapi tidak dilanjutkan.

Bupati Sleman, Sri Purnomo menjelaskan jika penghapusan hutan peternak sudah disepakati bersama oleh pihak perusahaan. Namun, warga diminta juga tidak memberikan tuntutan tambahan berupa kompensasi yang di luar kesepakatan awal yang dibangun. Menurutnya, muncul gangguan berupa penyakit sehingga sapi tidak produktif dan gagal beranak.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online