Mahal, Gasmin Belum Dilirik Pengusaha

Rheisnayu Cyntara
Rheisnayu Cyntara Selasa, 12 September 2017 15:55 WIB
Mahal, Gasmin Belum Dilirik Pengusaha

Pekerja mengeringkan briket batu bara di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (21/1/2015). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengharapkan sektor industri mampu menyerap alokasi batu bara secara maksimal sepanjang 2015. Target serapan pemanfaatan batu bara dalam negeri pada 2014 sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 2901/K/30/MEM/2013 sebesar 95,55 juta ton. Dari angka itu, sebanyak 85% dialokasikan untuk kebutuhan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN), sedangkan 15% sisanya dialokasikan untuk sektor i

Teknologi gasmin atau gas mini yang menggunakan bahan baku briket batubara belum dilirik Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jogja

Harianjogja.com, BANTUL--Teknologi gasmin atau gas mini yang menggunakan bahan baku briket batubara belum dilirik Industri Kecil dan Menengah (IKM) di Jogja.

Mahalnya reaktor gasifier yang dapat mengubah batubara menjadi gas yang mencapai Rp50 juta per unit menjadi kendalanya.

Kepala Bidang Informasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral Batubara Kementerian ESDM Yogyakarta, Sarimin mengatakan hingga kini baru enam IKM di DIY yang menggunakan teknologi ini karena keterbatasan modal untuk pengadaan alat konverter.

Meski telah dikembangkan sejak 2011 silam, belum banyak IKM yang memanfaatkannya. Sarimin menyebut penggunaan energi batubara di Indonesia lebih banyak dilakukan oleh perusahaan besar berskala nasional.

"Padahal pelaku IKM di Indonesia mencapai jutaan," tuturnya saat sosialisasi penggunaan gasmin kepada IKM pada Senin (11/9/2017).

Menurut Sarimin, meskipun pada awalnya teknologi gasmin ini membutuhkan modal yang besar, namun energi yang dihasilkan ramah lingkungan dan aman dari potensi tabung meletus karena tekanan gas sangat rendah.

Selain itu, penggunaan teknologi ini juga dapat mendukung program pemerintah untuk memanfaatkan batu bara sebagai salah satu energi alternatif. Sebab hingga kini komoditas tersebut lebih banyak diekspor daripada digunakan di pasar dalam negeri.

Guna mengatasi kendala tersebut pihaknya mendorong pihak perusahaan untuk membantu IKM melalui CSR atau pihak perbankan dengan memberikan bunga kredit yang ringan.

Peneliti Bidang Batubara Kementerian ESDM, Yeni Nova Etik mengatakan Jogja ditargetkan menjadi pilot project gasmin. Diharapkan dalam satu tahun ke depan ada sekitar 10 IKM di DIY yang menggunakan teknologi ini.

"Tahun depan, kami targetkan ada 50 IKM yang [letaknya] tak jauh dari pusat distribusi batubara di berbagai kota di Indonesia," tuturnya.

Yeni juga menjelaskan terdapat tiga tipe gasmin. Yaitu tipe 1 gasmin dengan kapasitas batubara 15-20 kg/jam yang dengan penggunaan BBM tiga hingga 6 liter/jam atau LPG 3 kg/jam. Tipe 2 gasmin yaitu dengan kapasitas batubara 25-30 kg/jam setara dengan penggunaan BBM 8-10 liter/jam atau LPG 8 kg/jam.

Serta tipe 3 gasmin dengan kapasitas batubara 50kg/jam setara dengan penggunaan BBM 13 liter/jam atau LPG 10 kg/jam. Tipe 3 gasmin ini bisa dimanfaatkan IKM untuk peleburan alumunium, minyak atsiri, kerupuk, tempe dan pengeringan hasil pertanian.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online