PERTANIAN BANTUL : Program Corporate Farming Banyak Berikan Keuntungan, Berikut Daftarnya

Bernadheta Dian Saraswati
Bernadheta Dian Saraswati Selasa, 19 September 2017 06:20 WIB
PERTANIAN BANTUL : Program Corporate Farming Banyak Berikan Keuntungan, Berikut Daftarnya

JIBI/Harian Jogja/Desi Suryanto Anak-anak bermain sepak bola sambil menggembala kambing di areal persawahan di Banguntapan, Bantul, DI. Yogyakarta, Kamis (23/07/2015). Aktivitas bermain bersama teman sebaya di luar ruang menjadikan anak lebih banyak bergerak secara fisik, berinteraksi dan bekerjasama dalam permainan.

Pertanian Bantul yang mengadopsi sistem berjemaah

Harianjogja.com, BANTUL -- Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul menunggu hasil ujicoba Program Corporate Farming atau pertanian secara berjemaah yang menggabungkan petak-petak lahan kecil menjadi satu area pertanian yang lebih luas untuk menghemat biaya produksi pertanian. Pertanian model ini bisa diperluas ke berbagai wilayah di Bantul.

Baca Juga : http://m.harianjogja.com/?p=852437">PERTANIAN BANTUL : Program Corporate Farming Mungkin Diperluas

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Kabupaten Bantul Pulung Haryadi mengatakan sesuai teori, pertanian dengan sistem berjemaah tersebut diyakini lebih menguntungkan petani. Pertama, penggabungan petak-petak lahan kecil menjadi satu area yang lebih luas memungkinkan masuknya sejumlah alat modern pertanian seperti rice transplanter (mesin penanam) dan combine harvester (mesin pemanen).

“Kalau luasnya sempit hanya 500 meter persegi, bagaimana alatnya bisa dijalankan, belok saja tidak bisa. Kalau luas misalnya satu hektare alat bisa masuk,” papar dia kepada Harianjogja.com, Senin (18/9/2017).

Masuknya teknologi modern seperti alat pemanen dan penanam padi menurutnya mampu mengurangi masalah kekurangan tenaga petani pemanen dan penanam padi yang dihadapi saat ini. Alhasil, biaya produksi pertanian bisa dikurangi.

Selain itu, dengan alat modern hasil panen juga diyakini bisa maksimal dibandingkan bertani secara manual. Belum lagi sejumlah keuntungan lain yang didapat dari pertanian berjemaah tersebut. Misalnya petani bisa sambil bekerja di sektor lain karena tidak banyak waktu dihabiskan di sawah.

“Khusus di lokasi ujicoba juga sudah ada bantuan alat pemanen maupun penanam dari Pemerintah Pusat, maupun bantuan dari BI [Bank Indonesia],” lanjutnya lagi.

Tim fasilitator dari Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Jamhari mengatakan petani gurem saat ini rata-rata memiliki sawah kurang dari 0,2 hektare. Para petani jarang memperhatikan indikator ekonomi produksi dalam usahanya, seperti biaya balik modal serta perbandingan antara hasil yang diperoleh dengan biaya produksi pertanian yang dikeluarkan. Akibatnya, pemborosan sumberdaya berlangsung terus-menerus dan kesejahteraan petani sulit beranjak naik.

Masuknya alat-alat modern ke lahan pertanian berkat pertanian dengan sistem berjamaah menurutnya akan memberi banyak manfaat seperti menjawab masalah kelangkaan buruh tandur dan buruh panen.

"Kini tiada lagi Mbokde Painah, Paijem, Yu Waginah dan Wagiyem, mereka sudah tua-tua, bahkan sebagian sudah meninggal, sementara tenaga muda sekarang makin jauh dari dunia pertanian, " ungkapnya menyinggung kelangkaan buruh tani.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Artikel Penulis