KERAJINAN BATIK PRODO
Seorang pekerja menyelesaikan pembuatan batik prodo di Desa Brajan, Wonokromo, Pleret, Bantul, Yogyakarta, Jumat (28/2). Kerajinan batik prodo yang merupakan salah satu dari cabang jenis kesenian batik yang dikhususkan untuk memperindah kain batik dengan warna emas tersebut dijual seharga Rp 100.000,00 hingga Rp 1.500.000,00 tergantung ukuran dan jenis kain, dan dipasarkan ke sejumlah kota besar di Indonesia. ANTARA FOTO/Noveradika
Ekspor batik dari Jogja meningkat.
Harianjogja.com, JOGJA-- Pesona kain khas batik banyak diminati konsumen dari luar negeri. Namun, ekspor batik dari DIY banyak yang tidak tercatat dalam Surat Keterangan Asal yang diterbitkan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) DIY.
"Selama ini, ekspor tekstil DIY terus mengalami peningkatan sekitar dua persen. Batik merupakan komoditas yang ada di dalamnya," ujar Kabid Pengembangan Kerajinan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY, Polin Napitupulu, Kamis (19/10/2017).
Polin mengatakan, potensi batik menembus pasar internasional sangat besar. Pasalnya, kini semakin banyak penyelenggaraan fashion show bertaraf nasional maupun internasional banyak mengaplikasikan beberapa pola batik dari DIY.
"Kalau secara kuantitatif berapa besar potensi batik yang sudah dipasarkan, memang agak sulit. Tetapi secara kualitatif, melalui penyelenggaraan fashion show, hingga imbauan penggunaan batik di instansi-instansi dapat dilihat, batik telah banyak diaplikasikan masyarakat," ungkap Polin.
Sementara itu, Kabid Perdagangan Luar Negeri Disperindag DIY, Rahayu Sri Lestari mengungkapkan batik DIY banyak diminati konsumen dari berbagai negara di dunia. Namun, diakui dia, banyak produk batik yang diekspor tidak tercatat melalui surat keterangan asal. Di mana surat keterangan ekspor yang menyatakan asal produk tersebut mestinya diterbitkan oleh Disperindag DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tags: