Jembatan Kretek Dua Bakal Diimbangi Pengembangan Wisata
Mujono, pengrajin genteng di Beran, Margodadi, Seyegan menata hasil produknya di atas lahan miliknya dengan maksud memanfaatkan sinar matahari yang ada, Kamis (30/11/12). (Harian Jogja/ Sekar Langit Nariswari)
Ketiadaan panas matahari menyulitkan proses penjemuran genting di wilayah sentra genting di Sleman itu
Harianjogja.com, SLEMAN-Hujan berkepanjangan yang terjadi pekan lalu mengganggu proses produksi genting yang banyak dilakukan perajin di sekitar wilayah Kwagon, Sidorejo, Godean. Ketiadaan panas matahari menyulitkan proses penjemuran genting di wilayah sentra genting di Sleman itu.
Widodo, salah satu perajin genting yang ditemui di Kwagon mengatakan, terpaksa memperlambat proses produksi yang biasa
dilakukannya untuk membuat genting dan batu bata. Pasalnya, hujan terus-menerus disertai dengan ancaman banjir di desanya selama pekan ini menghambat pekerjaannya.
"Enggak bisa kerja, enggak bisa jemur sama sekali, hujan terus tidak ada sinar matahari, mendung," katanya ditemui Harian Jogja di bengkel kerjanya, Kwagon pada Kamis (30/11/2017) lalu.
Biasanya, ia membutuhkan waktu sekitar dua hari untuk menjemur batu bata hasil bikinannya hingga padat dan keras sehingga siap dijual. Dua hari itupun hanya akan berhasil apabila matahari bersinar terik. Proses serupa juga dialaminya untuk pembuatan genting meskipun waktu penjemurannya lebih pendek.
Batu bata dan genting bikinannya biasanya didiamkan selama dua sampai tiga hari dulu sebelum akhirnya dijemur. "Biar mulus," ucapnya singkat ketika ditanya alasan pendiaman itu.
Faktanya, sudah beberapa waktu belakangan ia terpaksa menyesuaikan diri karena faktor alam yang tidak mendukung. Ia tetap bisa mencetak dan mendiamkan komoditasnya namun tak bisa menjemur sehingga pekerjaannya terbengkalai.
Dampak paling parah dirasakannya ketika Badai Cempaka memuncak awal pekan lalu. Akibatnya, ia harus menanggung kerugian setidaknya Rp400.000 akibat tiga hari tidak bekerja. Biasanya, ia menjual gentingnya dengan harga Rp150 per buah, sebagian besar merupakan pesanan dari Muntilan. Biasanya, dalam sehari ia bisa mencetak sekitar 300 genting yang kemudian menjadi sumber penghasilannya.
Musim penghujan juga membuat pengambilan tanah lempung, sebagai bahan baku genteng dan batu bata, lebih sulit. Bahan yang didapatkan juga tidak sebaik biasanya. Selain itu, proses pembakaran juga terganggu karena kayu bakarnya dalam keadaan lembab sehingga hasilnya tidak sempurna.
Hal serupa juga dialami Mujono, warga Beran, Margodadi, Seyegan yang juga memproduksi batu bata dan genting sejak puluhan tahun lalu. Musim hujan membuatnya tak bisa menjemur genting dan batu bata sementara proses cetak tetap jalan terus. Akhirnya, hasil produksinya tetap coba dijemur namun ditutupi plastik kala hujan turun.
Meski demikian, hasilnya juga tak memuaskan karena batu batanya yang sudah dicetak malah ada yang rusak akibat terkena hujan. Selain itu, ia juga mulai kehabisan lahan sebagai tempat menjemur hasil produksinya. Sebabnya, dengan sistem adaptasi ini setidaknya butuh seminggu agar gentengnya kering sempurna."Per hari ya rugi Rp500.000," keluhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Program MBG serap 1,28 juta tenaga kerja dan libatkan ribuan UMKM. Dampaknya terasa dari dapur hingga sektor pangan nasional.
Persis Solo terdegradasi ke Liga 2 meski menang 3-1. Suporter kecewa, Wali Kota Solo minta tim segera bangkit.
Persib Bandung resmi juara Super League dan cetak hattrick. Bobotoh rayakan kemenangan meriah di Stadion GBLA.
Dua pria ditangkap usai diduga tabrak lari di Solo. Mobil menabrak tiang dan pohon, pelaku sempat diamuk massa.
Lima dosen UPN Jogja disanksi setelah terbukti lakukan pelecehan verbal. Kampus tegaskan komitmen lingkungan bebas kekerasan.