Internet ke Depan Akan Semakin Lemot, Ini Kata Pakar

Sunartono
Sunartono Jum'at, 08 Desember 2017 22:40 WIB
Internet ke Depan Akan Semakin Lemot, Ini Kata Pakar

Ilustrasi Perkembangan Akses Internet (Detik)

Defisit kuota, Internet akan semakin lemot.

Harianjogja.com, JOGJA--Indonesia telah mengalami defisit kuota internet mencapai 200 MHz pada 2017 akibat tingginya pengguna internet sehingga koneksi jaringan kerap terganggu. Masalah itu dibahas dalam diskusi publik bertema Indonesia Memasuki Era Digital, Siapkah Masyarakat Kita? di Auditorium LPP, Jalan Urip Sumoharjo, Kota Jogja, Jumat (8/12/2017).

Staf Ahli Menkominfo Bidang Komunikasi dan Media Massa Prof. Henri Subiakto menegaskan, di 2017, Indonesia telah mengalami defisit kuota internet mencapai 200 MHz. Diperkirakan defisit akan meningkat menjadi 500 MHz di 2020 yang berpotensi membuat internet akan makin sering macet.

Pada kondisi defisit saat ini, di kota besar jaringan internet sering bermasalah. Mengingat kebutuhan broadband atau jangkauan frekuensi luar untuk mengirim dan menerima data, dengan keberadaan di frekuensi sudah tidak memenuhi. Penyebabnya, karena pengguna internet di Indonesia cukup besar meski masih berada di bawah Tiongkok. Selain itu sebagian besar internet saat ini menggunakan frekuensi, seperti dipakai oleh operator untuk jaringan 3G, 4G, 5G. "Tahun ini, 2017 defisitnya hampir 200 MHz, di kota kota besar makanya kan sering buffering terus," terangnya dalam dikusi tersebut, Jumat (8/12/2017).

Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga Surabaya ini menambahkan, pada medio 2000-an, International Telecomunication Union (ITU) yang merupakan organisasi internasional bertugas meregulasi radio internasional dan telekomunikasi, tak menyangka bakal terjadi ledakan digital seperti saat ini. Sementara alokasi frekuensi sudah terploting jauh sebelumnya dengan menempatkan porsi digital sangat sedikit. Mengingat sebelum ada ledakan digital, dalam melakukan komunikasi masyarakat tidak banyak memakai frekuensi, seperti telepon masih menggunakan kabel. Porsi lain telah ditempati frekuensi untuk penerbangan, radio, televisi hingga radio amatir. Frekuensi digital sendiri telah dibagi dalam banyak jenis mulai dari 3G, 4G, bahkan saat ini 5G.

"Sekarang anda telpon, SMS, Youtube semua pakai frekuensi, itu semua menggunakan bandwidth. Nah bandwidth-nya itu yang terjadi ledakan permintaan, yang tadi saya sampaikan sudah defisit sekitar 200 Mhz," kata dia.

Salah satu solusi mengatasi lemotnya jaringan adalah memperkuat fiber optik untuk komunikasi dengan kabel agar tidak seluruhnya memakai nirkabel. Cara lain, dengan penataan frekuensi atau disebut digitalisasi TV. Alasannya, TV di Indonesia saat ini masih TV analog sehingga menjadikan boros frekuensi. Sehingga frekuensi yang sebelumnya dipakai untuk TV analog bisa dipakai untuk komunikasi berbasis bandwidth. Ia mencontohkan, satu frekuensi TV analog bisa digunakan untuk sekitar 12 TV digital.

Tetapi, kata dia, itu tidak mudah mengingat belum ada kebijakan untuk mengegolkan TV analog menjadi digital karena banyak kepentingan. "Kalau itu tidak dilakukan sebelum tahun 2020, maka akan keburu macet [lalu lintas internet]. Sekarang saja kadang sudah mulai kesulitan. Nanti semakin lama akan semakin lemot. Makanya undang-undang penyiaran itu harus segera selesai," ungkap dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online