Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
JIBI/HARIAN JOGJA/DESI SURYANTO KEMACETAN DI LIBUR PANJANG -- Seorang polisi berkoordinasi saat terjadi kemacetan di jalan Malioboro, saat jalan tersebut digunakan untuk acara parede, Sabtu (7/4). Libur panjang Paskah dimanfaatkan wisatawan domestik untuk mengunjungi sejumlah objek wisata di Jogja, simpul kemacetan juga terjadi di jalan Mataram, jalan Mangkubumi.
Sebagian besar wisatawan mengarah ke ikon Kota Jogja.
Harianjogja.com, JOGJA--Pemerintah Daerah (Pemda) DIY, melalui Dinas Perhubungan, mengaku kesulitan mengendalikan kemacetan di Malioboro dan sekitarnya. Bus-bus yang kerap parkir di pinggir jalan diduga sebagai penyebab utama kepadatan, dengan ditambah tujuan utama wisatawan memang sebagian besar tertuju pada ikon Kota Jogja tersebut.
Kepala Bidang Angkutan Darat Dinas Perhubungan DIY Hari Agus Triyono mengatakan di luar kawasan Malioboro, kepadatan lalu lintas relatif bisa dikendalikan. Meskipun antreannya panjang, tapi kendaraan tetap bergerak walau dengan kecepatan yang rendah.
Tapi untuk Malioboro, ucap Agus, kemacetan sulit diantisipasi. Bahkan, pada malam Minggu (24/12/2017) dan malam Senin (25/12/2017) lalu, di Simpang Gondomanan dan Tugu kemacetan disebutnya sampai "mengunci".
“Ini yang sulit mengendalikan di sekitaran Malioboro karena orang banyak menuju ke sana. Kemacetannya lumayan karena ada bus-bus yang parkir di samping jalan,” ucap Agus Selasa, (26/12/2017).
Untuk mengurai kepadatan lalu lintas selama libur Natal dan Tahun Baru 2018, Dinas Perhubungan DIY memakai strategi memperlama dan mempercepat lampu merah. Agus mengatakan, beberapa lampu lalu lintas di Kota Jogja seperti simpang Gondomanan, Ngabean, Rumas Sakit PKU Muhammadiyah, dan Wirobrajan, durasi lampu merahnya diperpanjang.
Sementara lampu lalu lintas yang terdapat di wilayah-wilayah perbatasan macam Prambanan (sampai Bandara Internasional Adisutjipto) dipercepat. Hal tersebut dilakukan supaya kendaraan tidak terlalu numpuk di pusat kota.
Agus menyatakan, rekayasa lalu lintas yang diterapkan memang tidak benar-benar efektif. Namun yang terpenting arus kendaraan tetap mengalir. Karena bagaimanapun kepadatan tidak bisa terhindarkan mengingat banyaknya kendaraan yang masuk DIY.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Kebakaran berulang terjadi di rumah pemotongan ayam di wilayah Mriyan, Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Sleman, dalam dua hari terakhir.
Persis Solo terdegradasi ke Liga 2. Dirut Ginda Ferachtriawan minta maaf dan siapkan restrukturisasi besar demi kebangkitan tim.
76 Indonesian Downhill 2026 di Bantul berlangsung ekstrem. Andy juara tipis, kelas junior justru catat waktu tercepat.
Warga Boyolali menemukan batu diduga stupa dan prasada. Diduga peninggalan Mataram Kuno abad 8-9, kini diteliti Disdikbud.
Jumlah investor saham di Jogja tembus 322 ribu per April 2026. Tumbuh 30% setahun, didorong edukasi dan minat generasi muda.