Siswa SD Meninggal Seusai Tertimpa Patung di Museum Ronggowarsita
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
Para petugas pemungut membantah adanya pungutan liar
Harianjogja.com, SLEMAN-Tidak hanya layanan yang dikeluhkan, dugaan pungutan di luar retribusi juga dikeluhkan oleh wisatawan. Namun, pengelola Wisata Kaliadem membantah seluruh tuduhan tersebut.
Kepala Dukuh Pangkurejo, Umbulharjo Subagyo menegaskan, masalah tersebut sudah diklarifikasi saat rapat semua unsur. Rapat sendiri berlangsung pada Selasa (20/2/2018) malam yang dihadiri seluruh stakeholder, Dinas Pariwisata, Kecamatan Pemdes Umbulharjo, hingga petugas pemungut hingga komunitas wisata di Kaliadem. "Seluruhnya hadir dan dikonfirmasi," katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (21/2/2018).
Dijelaskan Subagyo, para petugas pemungut membantah adanya pungutan liar sebagaimana dilaporkan ke Tim Siber Pungli Sleman. Dalam penjelasannya di hadapan semua pihak, para petugas membantah adanya pelanggaran tersebut. "Tidak ada pungli, semua ikut prosedur. Petugas tidak pernah mengeluarkan tanda bukti berupa kwitansi, setiap transaksi pembayaran retribusi diberikan tiket sesuai aturan," ujarnya.
Memang, kata Subagyo, untuk jip yang masuk membayar uang sebesar Rp5.000 kepada petugas pemungut. Tetapi setelah diakumulasi, tiket retribusi dirobek sesuai keuangan yang masuk. "Kami terus meningkatkan pengelolaan dan bekerja secara profesional saja," ujarnya.
Belum disetujuinya peraturan desa (perdes) terkait pengelolaan wisata di Umbulharjo dinilai menjadi salah satu penyebab munculnya tudingan negatif terkait pengelolaan wisata Kaliadem. Padahal, perdes tersebut dinilai penting untuk mengatur dan mengembangkan pengelolaan wisata Kaliadem.
"Sampai saat ini kami masih menunggu koreksi perdes dan persetujuannya oleh Dispar dan Biro Hukum," kata Kepala Desa Umbulharjo Suyatmi.
Bila perdes tersebut disetujui, Suyatmi yakin masalah-masalah yang muncul selama ini dapat diminimalisasi, bahkan tidak akan ada lagi. Pasalnya dengan adanya perdes tersebut, mekanisme pengawasan akan dapat berjalan dengan baik. Misalnya memberikan fasilitas layanan informasi kepada wisatawan yang datang terkait layanan wisata di destinasi tersebut.
"Sebetulnya kami sudah terus melakukan pembinaan. Komunitas juga memiliki komitmen untuk menjalankan prosedur," ujar Suyatmi.
Dia berharap, seluruh kritik dan keluhan yang terjadi di lapangan dapat diselesaikan oleh petugas (pengelola) tanpa harus diviralkan di media sosial (medsos). "Sebenarnya bisa dirembuk, ada petugas di sana. Kalau tidak puas, bisa mendatangi pemdes," ujarnya.
Terpisah, Kepala Dispar Sleman Sudarningsih mengaku masih terus mendalami persoalan-persoalan yang selama ini muncul di kawasan wisata Kaliadem. Menurutnya, investigasi dan klarifikasi baru dilakukan di satu Pemdes. "Masih ada dua Pemdes lagi [Kepuharjo dan Glagaharjo] yang perlu diklarifikasi. Jadi sabar dulu ya," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Siswa kelas II SD meninggal dunia usai tertimpa patung di Museum Ronggowarsita Semarang saat mengikuti wisata rombongan sekolah.
Wali Kota Solo Respati Ardi tanggapi kritik lomba seragam jukir. Seragam baru akan dilengkapi QRIS untuk dorong parkir cashless.
Satpol PP Gunungkidul menertibkan pemasangan tikar-tikar di bibir Pantai Sepanjang di Kalurahan Kemadang, Tanjungsari untuk memberikan rasa nyaman ke pengunjung
Festival balon udara di Solo diserbu ribuan warga. Sebanyak 18 balon diterbangkan, namun durasi dipersingkat akibat angin kencang.
302 personel gabungan amankan laga PSIM vs Madura United di Bantul. Polisi siapkan pengamanan ketat dan rekayasa lalu lintas.
Tesla resmi menaikkan harga Model Y di AS setelah dua tahun. Simak daftar harga terbaru dan persaingan ketat di pasar mobil listrik.