Tiap Tahun 40 Warga Gunungkidul Ditemukan Mengidap HIV/AIDS

Jalu Rahman Dewantara (Jalu)
Jalu Rahman Dewantara (Jalu) Selasa, 03 April 2018 05:50 WIB
Tiap Tahun 40 Warga Gunungkidul Ditemukan Mengidap HIV/AIDS

Ilustrasi HIV/AIDS. (Harian Jogja)

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Jumlah penderita HIV/AIDS di Gunungkidul dalam beberapa tahun terakhir berada di rata-rata 40 kasus. Meski tidak setinggi kabupaten lain di DIY, jumlah tersebut tetap diwaspadai.

Merujuk data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, jumlah penderita HIV/AIDS dalam lima tahun terakhir yakni, 2013, 42; 2014, 37; 2015, 44; 2016, 39 dan 2017, 49. Jumlah tersebut dihimpun dari 18 kecamatan di Gunungkidul.

Kepala Seksi P2PM Dinkes Gunungkidul, Sukari mengatakan meski jumlahnya lebih kecil dibanding semua kabupaten dan kota di DIY, tapi pihaknya tetap optimalkan kewaspadaan. Menurutnya persebaran penyakit itu perlu penanganan yang baik. "Kami selalu lakukan sosialisasi dan pembinaan, supaya tidak ada sebaran yang lebih banyak," ujarnya kepada Harianjogja.com, Senin (2/4/2018).

Sukari menjelaskan berbagai upaya telah dilakukan. Mulai dari bekerjasama dengan LSM, program perawatan gratis, dan pemerikasaan awal terhadap ibu hamil untuk mencegah menularnya HIV/Aids ke bayi. Selain itu penguatan kader sadar HIV/Aids yang ditempatkan di sejumlah kecamatan di Gunungkidul juga telah digalakan. "Meski begitu, pertahun jumlahnya [penderita HIV/Aids] tetap berada di angka tersebut," ujarnya.

Sukari mengatakan ada beberapa faktor yang menyebabkan persebaran penyakit tersebut di Gunungkidul. Ia menduga faktor perkembangan wisata di tanah Handayani menjadi salah satunya. "Wisatawan yang datang kan banyak dari luar, bukan tidak mungkin ada yang menularkan ke warga, tapi ini masih kemungkinan," ujarnya.

Ia menambahkan menjamurnya kos-kosan dan rumah kontrakan sebagai tempat singgah pendatang di Gunungkidul bisa menjadi penyebabnya. "Sekarang di sini mulai ramai pendatang, jadi mulai banyak kos-kosan ataupun kontrakan untuk mereka, dan bisa saja dari mereka ada yang membawa penyakit tersebut," ujarnya

Faktor lainnya ialah kepulangan warga asli Gunungkidul yang telah lama merantau. Menurutnya ada kemungkinan warga yang pulang tersebut membawa penyakit HIV/Aids. "Pada beberapa kasus memang ada sehabis pulang dari rantauan lalu terkena HIV/Aids," ucapnya.

Sementara itu Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawati mengatakan kasus penderita HIV/Aids di Gunungkidul memang memerlukan penanganan lebih. Dengan jumlah yang cenderung meningkat pihaknya terus tingkatkan kewaspadaan. Adapun fokus waspada yang menjadi perhatiannya yakni penularan yang masih tinggi melalui hubungan seksual. "Penularan lewat hubungan seksual memang sulit untuk kita kontrol karena itu sudah menjadi ranah pribadi," ujarnya.

Dewi menambahkan pihaknya sudah berupaya memberi edukasi ke beberapa lokasi yang rawan penyebaran HIV/Aids. Salah satunya yakni di tempat prostitusi. Dibantu LSM Dewi menghimbau kepada para pekerja seks komersial untuk selalu menggunakan alat kontrasepsi. "Himbaunya hanya sebatas itu karena untuk pencegahan," ujarnya.

Kemudian lanjut Dewi pihaknya menghimbau masyarakat untuk rutin melakukan cek kesehatan. Hal itu memudahkan Dinkes dan pihak terkait untuk melakukan penanganan lebih lanjut jika memang yang bersangkutan dinyatakan positif HIV/Aids. "Untuk pemeriksaan kini semua puskesmas di Gunungkidul bisa, biayanya juga gratis, jadi tidak perlu khawatir," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Bhekti Suryani
Bhekti Suryani Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online