Trump Hentikan Operasi Hormuz Seusai Saudi Tolak Akses Militer AS
Donald Trump menghentikan sementara Project Freedom setelah Arab Saudi menolak akses pangkalan dan wilayah udara militer AS.
Lastri Lestari mengerjakan ujian nasional di tempat tidur, Senin (2/4/2018)/Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, BANTUL—Segelintir siswa SMK tak cuma memeras otak untuk menjawab soal Ujian Nasional (UN) 2018. Mereka harus mengerahkan tenaga dan konsentrasi ekstra di luar urusan pelajaran. Keterbatasan fisik dan prasarana harus mereka atasi.
Dari rumahnya di Dusun Gulon RT 03, Desa Sariharjo, Pundong, Bantul, Lastri Lestari, 17, tiba di SMK Negeri 1 Pundong naik ambulans, Senin (2/4/2018) sekitar pukul 09.45 WIB. Dia meneteskan air mata saat para guru memeluknya.
Tubuhnya berbaring pada dipan di sebuah ruang khusus, menggarap soal Bahasa Indonesia didampingi seorang pengawas ujian. Sutiyem, 50, ibu kandungnya ikut menemani.
Tak seperti teman-temannya yang mengerjakan soal ujian berbasis komputer, Lastri mengerjakan soal di kertas (paper based).
“Ujian nasional berbasis kertas [khusus] untuk peserta ujian yang mengalami hambatan dalam menggunakan komputer, seperti Lastri,” kata Kepala SMK Negeri 1 Pundong, Akhmad Fuadi.
SMK Negeri 1 Pundong dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul sudah menawari Lastri untuk mengerjakan ujian di rumah. Namun, yang ditawari menolaknya dan berkukuh ikut ujian di sekolah meski dia beberapa kali mengeluhkan nyeri di paha dan pinggang.
“Bertemu dengan guru dan teman di sekolah membuat saya bersemangat,” ujar Lastri.
Sudah sekitar lima bulan lamanya Lastri telentang di tempat tidur di rumah. Dia didiagnosis menderita idiopathic thrombocytopenic purpura, kelainan autoimun yang membuatnya lumpuh. Lastri merasa sangat berterima kasih kepada guru-guru dan teman-teman yang kerap menjenguknya di rumah. “Materi pelajaran juga diantarkan ke rumah.”
Lastri termasuk siswi yang cukup berprestasi. Ibunya buruh tani yang penghasilannya tidak menentu. Ayahnya sudah meninggal sejak tiga tahun lalu. Siswi jurusan Teknik Audio Visual ini punya nilai di atas rata-rata saat duduk di bangku kelas I dan II.
SMK Negeri 1 Pundong sempat kebingungan menghadapi konsisi Lastri karena dia tidak termasuk siswi difabel. Minggu (1/4) malam, pengurus sekolah bersama Disdikpora Bantul dan Disdikpora DIY, dan Panitia Penyelenggara Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus menggelar rapat selama tiga jam untuk mencari solusi agar Lastri tidak ketinggalan ujian. Pokok pembicaraan adalah apakah Lastri harus mengerjakan ujian di rumah atau sekolah dan apakah Lastri harus mengerjakan soal berbasis komputer atau kertas.
“Akhirnya kami sepakat, ujian dalam bentuk tertulis dan di sekolah. Misalnya Lastri tidak bisa mengerjakan dengan tangan, dia bisa menyebutkan jawabannya dan pengawas yang akan menuliskannya di kertas,” ujar Akhmad Fuadi.
Lastri dibantu pengawas dan dia tidak kesulitan. Lastri cuma sedikit kerepotan dalam soal cerita pendek. “Pertanyaannya setengah halaman.”
Selebihnya, dia bisa merampungkan semua soal tepat waktu dalam 90 menit.
Naik Perahu
Hambatan juga dialami sejumlah siswa yang berasal dari Jelok, Desa Beji, Patuk, Gunungkidul. Tak sedikit dari mereka yang terpaksa naik perahu untuk menyeberangi Sungai Oya sejauh 50 meter demi menempuh UNBK.
“Naik perahu memakan waktu lama, seharusnya kalau ada jembatan bisa pakai motor. Sekarang harus jalan sebelum naik perahu, setelah itu masih lanjut jalan lagi,” ujar Danu Rahmadi.
Jembatan yang biasa dilintasi Danu sudah lenyap sejak akhir November lalu, ketika banjir besar akibat Siklon Tropis Cempaka menerjang Sungai Oya.
Danu, siswa kelas 3 SMK 1 Patuk ini pun harus berangkat lebih awal agar tidak telat sampai di sekolah. Dia sebenarnya bisa naik sepeda motor, tetapi mesti memutar hingga lebih dari 20 kilometer dan melewati Hutan Wanagama yang jalannya berlubang banyak.
“Semoga jembatannya cepat diperbaiki,” kata Danu.
Harapan Danu akan terwujud, tetapi tidak dalam waktu dekat.Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Gunungkidul Edy Praptono mengatakan tahun ini ada tiga jembatan gantung yang akan dibangun untuk mengganti jembatan yang rusak diterjang banjir. Ketiganya adalh Jembatan Jelok sepanjang 84 meter, Jembatan Wonolagi di Ngleri, Playen, juga sepanjang 84 meter, dan Jembatan Mojorejo di Katongan, Nglipar, sepanjang 60 meter.
“Ini wewenang pemerintah Pusat, kami tidak tahu anggarannya,” tutur Edy.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Donald Trump menghentikan sementara Project Freedom setelah Arab Saudi menolak akses pangkalan dan wilayah udara militer AS.
Wali Kota Solo Respati Ardi prioritaskan guru dan nakes dalam rekrutmen CASN. Pemkot kejar solusi kekurangan tenaga pendidikan.
Menkeu Purbaya dan Menteri ESDM Bahlil bahas strategi peningkatan PNBP, swasembada energi, dan listrik desa. Ini target dan datanya.
Merokok meningkatkan risiko kanker mulut secara signifikan. Ketahui penyebab, dampak, dan cara menurunkannya menurut dokter.
BGN akan menangguhkan SPPG tanpa Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi. Kebijakan ini demi menjaga kualitas Program Makan Bergizi Gratis.
Serangan Israel ke Lebanon kembali meningkat. Puluhan wilayah dihantam, korban tewas bertambah. Simak perkembangan terbaru konflik Timur Tengah.