Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo [sweater hitam, berkacamata, berpeci] saat menemui warga penolak NYIA, Selasa (17/4/2018) malam./ist
Harianjogja.com,KULONPROGO- Bupati Kulonprogo, Hasto Wardoyo kembali menjalin komunikasi dengan keluarga dari warga penolak New Yogyakarta International Airport (NYIA). Kunjungan Hasto ke warga bertujuan mencari jalan terbaik, dalam membantu warga terdampak NYIA yang masih bertahan, agar tidak telantar saat pengosongan lahan.
Langkah awal yang dilakukan antara lain mendatangi warga penolak dan keluarga mereka satu per satu guna mengurai permasalahan.
"Kalau yang bersangkutan [penolak] didatangi belum mau, ya saya datangi keluarganya. Kami bersama Angkasa Pura I (AP I) siap membantu memindahkan barang, mengontrakkan rumah dan lain-lain," kata Hasto, Jumat (4/5/2018).
Kunjungan tersebut merupakan kunjungan yang kesekian kalinya, setelah sebelumnya, Hasto mengambil langkah serupa beberapa waktu lalu. Pada malam sebelumnya, Kamis (3/5/2018) malam, Hasto bersilaturahim ke kediaman Syamsutri (Sepupu Hermanto, salah seorang penolak NYIA) di rumah kerabatnya, Dusun Kaligintung Kidul, Desa Kaligintung, Kecamatan Temon.
Dalam kunjungan itu, Hasto menanyakan beragam hal. Harapannya, jika keluarga tersebut terpaksa pindah dari lahan Izin Penetapan Lokasi (IPL) NYIA, maka Pemerintah Daerah dapat membantu semaksimal mungkin.
"Kami tanya, ada perabotan apa saja, termasuk ternak yang dipelihara. Sehingga nantinya, saat Pemkab mencarikan rumah, sekaligus yang ada kandang ternaknya," ungkapnya.
Pada intinya, Pemkab ingin apabila warga harus pergi, Pemkab bisa membantu agar warga tidak telantar. Langkah ini pula yang selanjutnya didiskusikan bersama dengan AP I.
"Jika ada warga kami yang belum siap pergi, ya dibantu dong, disewakan rumah," kata dia.
Sementara itu, pada Jumat siang, Hasto kembali melakukan perjumpaan dengan kakak kandung Agus Urbani, bernama Suradikun. Diketahui, Agus Urbani merupakan salah seorang penolak NYIA yang tinggal di Dusun Bapangan, Desa Glagah, Kecamatan Temon.
Dalam perjumpaan yang diinisiasi oleh Hasto itu, kembali ia meminta saran dan masukan.
"Kami memberikan solusi berupa rumah tinggal yang kami tujukan untuk yang bersangkutan [Agus Urbani]. Yaitu berada di magersari, siap huni lengkap beserta perabotnya sudah komplit tinggal ditempati," terangnya.
Suradikun menuturkan, kerabatnya yang merupakan penolak NYIA tersebut terhitung sangat sulit ditemui dan selalu menghindar atau menutup diri. Hanya memang, ia sudah memiliki lahan yang bisa dibangun hunian baru, di Desa Karangwuni.
"Pernah ditanya terkait dengan kerelaan tanahnya [untuk NYIA]. Tapi yang bersangkutan mengatakan, mengikuti kemauan istri," ungkapnya.
Sepupu salah seorang penolak NYIA [Hermanto] yaitu Syamsuri mengungkapkan, sampai saat ini keluarga belum mengetahui perihal apakah kerabatnya itu sudah menyediakan rumah atau lahan untuk membikin rumah. Karena sepengetahuan dirinya, prinsip Hermanto tidak ingin menjual tanahnya.
"Tapi keluarga siap menerima apabila ia mau tinggal sementara, selama untuk menyiapkan tempat tinggal yang baru," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.