Ilustrasi Panen cabai/JIBI
Harianjogja.com, KULONPROGO—Hasil panen cabai di Kulonprogo didapuk menjadi penyangga kebutuhan cabai di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek). Pemerintah Pusat meminta petani di daerah untuk menanam cabai bukan hanya di musim-musim tertentu.
Kasubdit Aneka Cabai dan Sayuran Buah Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat Ditjen Hortikultura Dirjen Holtikultura Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Muhammad Agung Sunusi, menjelaskan saat ini panen cabai di Kulonprogo mencapai 10 ton hingga 15 ton per satu kali panen. Sekitar 70% di antaranya dikirim ke Jabodetabek dan Sumatra bagian selatan. Agung menambahkan, cabai dan bawang merah merupakan dua komoditas unggulan yang pengembangannya didanai maksimal oleh pemerintah. Dari alokasi sebesar Rp1,2 triliun APBN, sekitar 75% digunakan untuk mendukung pengembangan cabai dan bawang merah.
"Dua komoditas ini rawan memicu inflasi. Jadi pekerjaan rumah kami adalah bagaimana ketersediaan aneka cabai dan bawang merah nasional tersedia sepanjang waktu, sehingga diharapkan distribusi dan harga stabil," katanya di sela-sela panen raya cabai di lahan milik Kelompok Tani Gisik Pranaji, Dusun II, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Jumat (11/5/2018).
Ia mengungkapkan, saat ini Pemerintah Pusat berupaya maksimal untuk membantu pengembangan sentra-sentra utama cabai di seluruh Indonesia. Pengembangan luas aman pertanian cabai yang mencapai 350.000 hektare (ha) tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Saat ini, alokasi APBN baru mampu menampung pembiayaan program untuk 13.500 ha saja, sehingga pemerintah baru bisa memaksimalkan langkah mengefektifkan manajemen pola tanam dengan membentuk Champion Cabai Indonesia, salah satunya ada di Kulonprogo. Dengan adanya pola tanam yang efektif, bisa diartikan bahwa cabai akan tersedia di pasaran setiap bulannya, sehingga harga stabil dan ketersediaan aman.
"Jadi tidak semata-mata melakukan penanaman serempak. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan permintaan cabai menghadapi Idulfitri 2018, maka petani menanam cabai mundur tiga bulan sebelumnya," ujarnya.
Ketua Kelompok Tani Gisik Pranaji, Sukarman, mengatakan hasil panen cabai tahun ini tergolong baik dan harga cabai berkisar Rp21.000 per kilogram. Pada panen perdana, dari luas lahan sekitar 30 ha, petani mampu memproduksi tiga sampai lima ton cabai per hari. Dengan besaran ongkos produksi Rp8.000 per kilogram, hasil jual cabai menyentuh garis impas (break event point). Bahkan petani bisa meraih keuntungan Rp13.000 sampai Rp21.000, atau keuntungan bersih Rp100 juta per hektare.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.