Gerakan Ekstrem Seperti Penyakit
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Kapolda DIY Brigjen Pol. Ahmad Dofiri saat memberikan Khotbah Salat Idul Fitri di Alun-Alun Utara, Jumat (15/6/2018). /Harian Jogja- I Ketut Sawitra Mustika
Harianjogja.com, JOGJA--Kapolda DIY Brigjen Pol. Ahmad Dofiri mengatakan, bangsa Indonesia akan kembali diuji dengan gelaran pesta demokrasi berupa Pilkada Serentak yang dilaksanakan 27 Juni mendatang dan pemilu 2019.
Meskipun di DIY saat ini tidak ada daerah yang melaksanakan agenda Pilkada, tetapi dampak dan aromanya, yang mengarah pada nuansa Pemilu 2019 sudah begitu kentara. Dofiri menyatakan, DIY nampaknya begitu seksi dan diminati banyak pihak untuk ajang uji coba ke arah Pemilu 2019.
Hal itu, sambungnya, terlihat dari berbagai kegiatan, baik berupa diskusi, ceramah, tablig akbar, pengerahan aksi massa, bahkan sampai pembagian takjil menjelang buka puasa. Menurutnya, berbagai alasan dikemukakan, termasuk permohonan izin dan pemberitahuan kepada aparat berwenang dengan dalih membawa kepentingan umat dan kebaikan.
"Padahal fakta di dalamnya justru memantik pada posisi yang saling berhadap-hadapan. Satu kelompok mengundang, sementara sekelompok yang lain menentang, yang apabila tidak dikelola baik, ujung-ujungnya akan berakhir pada bentrokan. Nalar dan akal sehat terkadang tergadaikan hanya untuk kepentingan sesaat kelompoknya," ujar Dofiri saat memberi khotbah Salat Idulfitri di Alun-Alun Utara, Jumat (15/6/2018).
Terlebih lagi di era digital ini, lanjut Dofiri, isu dan ajakan begitu banyak berseliweran melalui media sosial. Hoaks dan ujaran kebencian menjadi menu santapan setiap hari. Begitu banyak peristiwa memilukan terjadi karena hoaks yang tidak dicerna dengan baik, padahal Al-Qur\'an sudah mengingatkan hal semacam itu.
Apabila masing-masing pihak memaksakan kehendak tanpa memperhatikan kepentingan yang lebih besar, Dofiri khawatir itu akan menjadi sesuatu yang berbahaya, apalagi jika kepentingan tersebut sudah merambah pada ranah politik, yang tentunya akan berakibat pada dampak yang lebih luas.
"Oleh karenanya, kembalilah pada nilai-nilai ajaran agama, karena Islam mengajarkan apa yang boleh dan tidak, termasuk dalam berpolitik. Karena sejatinya Islam itu agama perdamaian, maka berpolitik pun harus dilakukan dengan cara-cara damai," jelasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gerakan ekstrem radikal seperti halnya penyakit, yang jika didiamkan atau tidak ditindaklanjuti oleh pemerintah, akan mengancam dan mengudeta NKRI dalam level konstitusional.
Juventus terancam gagal lolos ke Liga Champions usai kalah 0-2 dari Fiorentina dan turun ke posisi keenam klasemen Serie A.
Apple dikabarkan akan mengubah Siri menjadi AI percakapan setara ChatGPT dan Gemini melalui pembaruan iOS 27 pada akhir 2026.
Libur panjang Mei 2026 membawa 35 ribu wisatawan ke Bantul dengan PAD wisata mencapai Rp506 juta, didominasi Pantai Parangtritis.
Tiket konser The Weeknd di Jakarta pada September 2026 resmi sold out dalam kurang dari tiga jam usai diserbu puluhan ribu penggemar.
Seorang balita peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) datang dalam kondisi darurat pada tengah malam dan langsung mendapatkan penanganan cepat