Erupsi Anak Krakatau Batalkan 5 Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru
Lima penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau.
Kraton Jogja./Harian Jogja
Harianjogja.com, JOGJA- Netizen di media sosial heboh gara-gara lambang terkait dengan Kraton Jogja dipakai pada desain kaus. Kehebohan itu awalnya dipicu sebuah cuitan dari putri Kraton Jogja, GKR Hayu.
Sosial media ramai dengan cuitan putri ke-4 Sri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu di akun Twitter-nya. Cuitan itu terkait sebuah papan reklame yang mempromosikan desain baju kaus bergambar lambang Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.
Lambang tersebut yakni lambang HaBa atau Praja Cihna. Dalam Twitter-nya, GKR Hayu juga memposting foto papan reklame tersebut. Diketahui, desain kaus bergambar lambang Kasultanan Ngayogyakarta itu dibuat oleh salah satu toko retail yang menjual sejumlah brand lokal. Seperti kaus, batik hingga kerajinan tangan.
Dalam cuitannya, GKR Hayu meminta pengguna lambang kasultanan itu untuk memahami dan mengerti akan produk apa serta lambang apa yang hendak dijual.
"Cobalah untuk ngerti dan ngerumangsani, sakjane yang kalian jual itu apa? " tulis @GKRHayu.
Ia menjelaskan, lambang tersebut di reklame itu adalah Praja Cihna, sebuah lambang Kasultanan Ngayogyakarta Hadinigrat yang dipakai untuk bangunan dan surat resmi.
Praja Cihna sendiri ada dua, pertama merupakan lambang institusi Kasultanan, kedua adalah lambang pribadi Sri Sultan HB X.
"Dalam contoh ini [reklame] yang dijual adalah lambang pribadi Sultan HB X. Jadi tolong pertimbangkan, sebelum kalian jual atau modif untuk lambang kalian sendiri," kata GKR Hayu dalam laman twitternya.
Sementara itu, Lilik Andi Ariyanto selaku Kepala Bidang Penegakan Undang-Undang mengaku belum ada laporan terkait reklame yang menjual lambang Sultan HB X.
"Belum ada laporan ke kita, " kata Lilik saat dihubungi melalui telepon.
Namun pihaknya akan melakukan pembongkaran reklame yang dinilai tak berizin. Ia menyebut banyak baliho atau reklame tak mengantongi izin dari Pemerintah Kota Jogja.
"Reklame banyak yang gak berizin, kita akan lakukan penegakkan," ucap Lilik.
Cuitan itu ditanggapi beragam oleh netizen. Salah satunya akun @azharikadv. Ia menulis : "Kayanya dari Kraton gk ada larangan, stiker lambang keraton dari dulu banyak dijual, tapi bentuknya sesuai (gak ada modifikasi). Pun biasnaya orang Jogja yg makai stiker tersebut meniatkan lambang itu sebagai identitas diri. Om2 saya yg rantau pada masang ini di motor/pintu rumahnya".
Ada pula yang menulis : "Dimohonkan pendaftaran patent ke Dirjen HAKI, jadi ada legalitasnya. Maklum anak muda sekarang kreativitasnya tinggi," tulis akun @pras819.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Suara
Lima penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru dibatalkan akibat abu vulkanik erupsi Anak Gunung Krakatau.
Warga Semin berburu emas di Kali Oya yang mengering saat kemarau. Aktivitas ini menjadi pekerjaan sampingan bagi petani yang kesulitan air.
Febrie Adriansyah diperiksa hampir 7 jam dan dicecar soal Tan Kian. Kuasa hukum menyebut Febrie tegas membantah menerima uang dari Tan Kian.
Jalan Baru Kretek-Girijati sepanjang 5 Km mulai uji coba open traffic 14-20 September 2026 dengan pembatasan kendaraan dan jam operasional.
Keterkaitan Boy Thohir dengan MGLV tercatat melalui PT Trinugraha Thohir yang memiliki 2,25% saham serta PT Trinugraha Thohir Harmoni sebesar 4,86%.
DPRD DIY meminta DTSEN tidak diterapkan kaku karena data bansos harus diuji dengan kondisi riil warga, termasuk pekerja informal dan pengguna pinjol.