Hyundai Stargazer Siap Mengaspal di Jogja
Hyundai Stargazer resmi hadir di Jogja, setelah sebelumnya diluncurkan oleh PT Hyundai Motors Indonesia (HMID)
Sejumlah orang tua siswa memantau penerimaan peserta didik baru, di SMPN 1 Wonosari, Jumat (6/7/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemahaman masyarakat terkait dengan sistem zonasi yang masih kurang dinilai menjadi salah satu penyebab kurang meratanya distribusi siswa yang masuk SMP.
Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid tidak memungkiri masih banyak orang tua yang menganggap masih adanya sekolah favorit, dan sekolah tidak favorit. Bahron mengatakan pada dasarnya semua sekolah di Gunungkidul sama saja, baik dari segi fasilitasnya maupun dari gurunya.
Dengan sistem zonasi itulah menurut dia bisa mengurangi bahkan menghilangkan kasta atau strata di dunia pendidikan. “Sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) online dengan zonasi sepertinya belum atau kurang dipahami. Ya masih banyak menilai beberapa sekolah itu adalah favorit. Padahal tujuan zonasi kan agar tidak ada ketimpangan,” kata dia, Selasa (10/7).
Selain itu, kurangnya siswa di beberapa sekolah, khususnya jenjang SMP, menurut dia juga disebabkan lantaran jumlah lulusan SD lebih sedikit dibanding kuota SMP yang ada. Adapun untuk lulusan siswa SD saat ini di Gunungkidul ada 9.222 siswa sementara kuota yang ada untuk SMP/MTS ada 11.700.
Disinggung soal regrouping, menurut Bahron perlu dikaji lebih dalam lagi. “Ya perlu pengkajian yang dalam untuk masalah regrouping, karena memang jaraknya sekolah untuk tingkat SMP saling berjauhan kecuali yang di kota,” ucap dia.
Bahron juga mengatakan selama kuota sekolah belum penuh, masih dapat menerima siswa. Selain itu program retrieval untuk mendorong anak-anak yang putus sekolah, dapat kembali bersekolah dan mengisi sekolah yang masih kekurangan siswa.
Kepala Bidang SMP Disdikpora Gunungkidul Kisworo mengatakan untuk sekolah yang berlokasi di pinggiran memang kuota yang disediakan beberapa sekolah tidak terpenuhi. “Seperti SMPN 4 Patuk, SMPN 4 Nglipar, SMPN 1 Gedangsari, SMPN 3 Tepus dan SMAN 5 Panggang. Tidak begitu banyak sebenarnya kekurangannya. Dari kuota 128, pendaftarnya 99 seperti itu contohnya,” kata Kisworo.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Hyundai Stargazer resmi hadir di Jogja, setelah sebelumnya diluncurkan oleh PT Hyundai Motors Indonesia (HMID)
Harga BBM naik per 17 Mei 2026. Solar BP-AKR dan Vivo tembus Rp30.890 per liter, Pertamax Turbo dan Dexlite juga naik.
Veda Ega Pratama start dari posisi ke-21 Moto3 Catalunya 2026 usai gagal lolos Q2. Rider Indonesia tetap optimistis memburu rombongan depan.
Kevin Diks mencetak gol spektakuler saat Borussia Monchengladbach menghancurkan Hoffenheim 4-0 di Bundesliga 2025/2026.
CEO Aprilia Racing Massimo Rivola mendoakan Marc Marquez cepat pulih meski Aprilia sedang dominan di MotoGP 2026.
WhatsApp bisa membuat memori ponsel cepat penuh. Simak cara membersihkan penyimpanan tanpa menghapus chat penting.