Bupati Award 2026: Pasutri Asal Candimulyo Borong Dua Penghargaan
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
Setya Dewi Wulandari (kanan) dan Reny Mufrikhatun El Walidayn (kiri) saat meneliti di Laboratorium Terpadu UII, Jumat (6/7). /Harian Jogja-Sunartono
Harianjogja.com, SLEMAN - Tiga mahasiswa Prodi Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia (UII) mengembangkan penelitian untuk menghasilkan produk obat kanker payudara dalam bentuk salep yang terbuat dari emas batangan.
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Setya Dewi Wulandari dan Puspita Fitri Handayani angkatan 2014 serta Reny Mufrikhatun El Walidayn angkatan 2015. Penelitian itu didanai Kemenristekdikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penelitian.
Setya Dewi Wulandari menjelaskan dalam penelitian itu menggunakan rutin trihidrat yang merupakan flavonoid sintesis dan emas murni batangan. Berbeda dengan penelitian pada umum yang mengambil bahan dari tumbuhan untuk diambil flavonoid, namun ia memilih serbuk sintesis yang dinilainya ukuran dosisnya lebih tepat.
Prosesnya, untuk emas satu gram dilebur lebih dahulu dengan dicampur asam nitrat, asam klorida dan dimasukkan ke lemari asam untuk dipanaskan selama 15 hingga 20 menit. Setelah meleleh kemudian dicampur dengan aqua pro injection 500 mililiter kemudian didinginkan di kulkas.
Setelah dingin kemudian direaksikan dengan serbuk rutin trihidrat yang juga sudah dicampur dengan aqua pro injection. Adapun rutin tersebut sudah tersedia di laboratorium.
"Setelah itu kami uji stabilitas, karena biasanya ada yang tidak stabil dan hanya tahan 24 jam habis itu sudah muncul endapan. Keterbaruan penelitian saya ini uji stabilitasnya lebih unggul dan lebih tahan lama [tanpa endapan]," katanya Jumat (6/7/2018).
Wulan mengaku salah satu kendala yang dihadapi adalah menemukan metode untuk melelehkan emas batangan dengan cara yang tepat. Mengingat dalam berbagai referensi jurnal ilmiah, masih banyak yang merahasiakan metode tersebut dan tidak merinci secara detail.
Tim UII tercatat membeli emas batangan dua kali karena bahan emas pertama hasilnya tidak maksimal. Dari awal penelitian itu, ia berharap ke depan bisa terus dikembangkan menjadi obat salep untuk kanker payudara.
"Bentuknya bisa salep, dioles, kami fokusnya formulasinya, stabilitas sediaan berapa lama dan efek ke kankernya ada atau tidak. Kalau sediaan itu sampai jadi produk mungkin butuh proses agak panjang," jelasnya.
Reny Mufrikhatun El Walidayn menambahkan bahan emas hasilnya lebih bagus sebagai obat kanker dan tidak menimbulkan efek komplikasi seperti obat lainnya. Dalam pembuatan, setiap satu gram emas bisa menjadi sediaan nanopartikel emas sekitar 100 mililiter.
Setiap 0,05 gram emas bisa menjadi sekitar 20 produk dan satu gram emas bisa menghasilkan 400 produk. "Kalau gold [nanopartikel emas] bisa langsung ke tubuh, efeknya cepat," kata dia.
Puspita Fitri Handayani menyatakan alat pendukung dalam penelitian adalah analytical balance (Mettler Toledo, Germany), micropipette (Thermo Scientifiec dan Finnipipette), Uv-Vis spectrophotometer (Hittachi), particle size analyzer (Horiba, Japan), ultrasonic homogenizer, FTIR, SEM, TEM, ELISA reader dan seperangkat alat gelas (pyrex). Adapun penelitian tim ini mengangkat judul Preparasi, Karakterisasi, Aktivitas dan Stabilitas Nanopartikel Emas Rutin Trihidrat 0,1% dengan PVA 2,5%.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pasutri asal Candimulyo meraih dua penghargaan pada Bupati Award 2026 Kabupaten Magelang berkat inovasi gula semut dan pertanian modern.
PSS Sleman kalah dari Bali United pada laga perdana. Pieter Huistra berharap PSS Fans kembali memberi energi saat menjamu Madura United.
Harga iPhone Duo di Malaysia dan Singapura mulai Rp40 jutaan. Simak harga tiap kapasitas, jadwal pre-order, spesifikasi, dan aturan IMEI.
Alumni pondok pesantren di Sleman melaporkan dugaan kekerasan seksual yang terjadi dua kali. Polisi kini masih menyelidiki laporan tersebut.
Mercedes mengajukan teknologi mobil yang bisa mengapung dan bergerak di air. Rodanya menjadi penggerak, dilengkapi sensor, GPS, dan pelampung.
Peninjauan dilakukan untuk melihat kondisi pos pemantauan Gunung Merapi sekaligus memastikan situasi di kawasan lereng Merapi tetap aman dan kondusif.