Taman Budaya Yogyakarta Wadahi Regenerasi Seni Pantomim

Salsabila Annisa Azmi
Salsabila Annisa Azmi Sabtu, 21 Juli 2018 06:37 WIB
Taman Budaya Yogyakarta Wadahi Regenerasi Seni Pantomim

Para seniman pantomim senior menyambut penonton di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (19/7/2018)./Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi

Harianjogja.com, JOGJA-Perkembangan regenerasi dunia seni pantomim di Kota Jogja berkembang sangat pesat. Taman Budaya Yogyakarta berupaya mewadahi regenerasi dunia seni pantomim dengan menggelar rangkaian acara seni dan lomba pantomim bertajuk Stand Up Mime "Dunia Anak".

Sutradara Komunitas Yogyesmime Marko Dinarta mengatakan komunitasnya turut memeriahkan pergelaran pantomim Stand Up Mime. Sebelumnya, dia juga turut serta membawa komunitasnya memeriahkan workshop pantomim pada Rabu (18/7/2018).

"Workshop dilanjutkan dengan acara lomba stand up mime dan pergelaran bertajuk dunia anak pada malam ini, untuk lomba ada 21 peserta," kata Marko disela pergelaran pantomim di Taman Budaya Yogyakarta, Kamis (19/7/2018).

Marko mengatakan sebagai pemantik regenerasi pantomim di Kota Jogja, dari 21 peserta lomba pantomim terpilih tiga juara yang mendapat penghargaan dari Taman Budaya Yogyakarta. Lomba pantomim mengundang juri seniman senior pantomim Septian Dwi Cahyo dan Jemek Supardi. Marko mengatakan, juri yang kapabel tersebut sesuai untuk melangsungkan regenerasi seniman pantomim muda.

"Perkembangan regenerasi pantomim di Kota Jogja sangat luar biasa. Mungkin karena ada FLS2N di sekolah, anak-anak yang minat pantomim jadi saling berlomba. Oleh karena itu tema penyelenggaraan pantomim kami juga dunia anak," kata Marko.

Marko mengatakan pada pergelaran pantomim Stand Up Mime "Dunia Anak" juga didominasi anak-anak. Terutama anak usia Sekolah Dasar kelas dua dan kelas lima. Selain itu pergelaran juga mengundang komunitas Gemime dan penggiat pantomim dari Unesa.

Kepala Taman Budaya Yogyakarta Yuliana Eni Lestari Rahayu mengatakan penyelenggaraan rangkaian pergelaran pantomim bertujuan untuk mengemban tupoksi pengembangan seni budaya wilayah jogja. "Artinya Taman Budaya Yogyakarta sebagai etalase dan lab seni budaya. Kami juga bekerjasama dengan rumah pantomim Yogyakarta untuk menyelenggarakan doku mime yang beridi workshop, lomba dan pertunjukan seni pantomim," kata Eni.

Eni berharap dengan terselenggaranya rangkaian kegiatan seni pantomim, masyarakat luas dapat mengetahui teknik pantomim. Setelahnya, masyarakat dapat menjadikan pantomim sebagai tontonan dan tuntunan regenerasi seniman pantomim.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan DIY Budi Wibowo mengatakan perkembangan seni pantomim sudah mendapat tempat di hati masyarakat DIY. Sedangkan pemilihan tema dunia anak diambil karena pihaknya ingin mengingatkan masyarakat luas bahwa dalam kedewasaan seseorang masih terdapat jiwa kanak-kanak yang membuat mereka tetap bahagia.

"Dunia anak adalah dunia yang penuh imajinasi. Generasi penerus ini yang harus selalu kita dorong daya imajinasinya, sehingga mereka bisa menjawab tantangan zaman. Apalagi sekarang banyak sekolah yang sudah buka ekskul seni pantomim," kata Budi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online