Kesbangpol Gunungkidul Targetkan Banpol Rp1,1 Miliar Cair Triwulan II
Kesbangpol Gunungkidul menargetkan pencairan bantuan keuangan partai politik sebesar Rp1,17 miliar pada triwulan kedua 2026.
Ilustrasi cabai/Reuters
Harianjogja.com, BANTUL -- Petani cabai di Desa Donotirto, Kecamatan Kretek resah dengan harga cabai merah keriting yang terus berubah-ubah setiap harinya. Kondisi ini dirasa merugikan karena dapat berpengaruh terhadap penghasilan yang didapatkan.
Salah seorang petani cabai, Jumilah mengatakan harga jual cabai tidak menentu karena perubahan hampir terjadi setiap hari.
Dia mencontohkan dua bulan yang lalu, harga sempat menembus Rp17.000 per kilogram di tingkat petani. Namun kondisi tersebut berangsur-angsur turun dan sempat menembus harga Rp7.000 per kilogram.
Menurut dia, pada saat ini tidak ada acuan khusus karena terus terjadi perubahan. Kondisi ini pun membuat para petani khawatir, terutama menyangkut pendapatan yang dihasilkan dari menanam cabai.
“Tidak bisa diprediksi sekarang dijual Rp8.000 dan besoknya bisa turun. Kalau pun naik juga tidak seberapa,” katanya kepada wartawan, Jumat (10/8/2018).
Jumilah berharap kepada pemerintah agar ada standardisasi acuan harga. Tujuannya agar petani tidak dirugikan oleh para tengkulak atau spekulan yang ingin mempermainkan harga.
“Ya kalau naik tidak masalah, tetapi kalau turun akan jadi soal. Apalagi untuk biaya perawatan juga membutuhkan modal yang tidak murah. Harapannya harga bisa stabil sehingga ada kepastian saat berusaha,” katanya lagi.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Juminah, petani cabai lain di Desa Donotirto. Menurut dia, fluktuasi harga sangat cepat karena setiap hari terus terjadi perubahan harga. “Kami tidak bisa menentukan harga, karena sangat bergantung pada tengkulak yang membeli,” katanya.
Juminah menjelaskan pemetikan cabai merah keriting dilakukan setiap empat hari sekali. Dalam sekali petik, ia mengaku bisa memanen sebanyak 300 kilogram.
“Dalam kurun waktu empat hari ini, pasti akan terjadi perubahan harga jual di tingkat petani. Apalagi kalau panen yang didapatkan banyak, pasti harganya akan murah,” ucapnya.
Penanaman cabai membutuhkan waktu pemeliharaan selama tiga bulan. Setelah itu, petani bisa memanen yang setiap petaknya bisa dipanen hingga sepuluh kali.
“Kalau hasil lumayan bagus karena serangan hama bisa dikendalikan. Namun yang jadi soal adalah harga jual yang terus naik turun sehingga tidak ada acuan pasti,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kesbangpol Gunungkidul menargetkan pencairan bantuan keuangan partai politik sebesar Rp1,17 miliar pada triwulan kedua 2026.
Hari Keluarga Internasional 2026 menyoroti dampak ketimpangan sosial terhadap kesejahteraan anak dan kondisi keluarga.
Enam wakil Indonesia gugur di Thailand Open 2026. Leo/Daniel dan Hira/Jani jadi harapan terakhir menuju semifina
PSEL Regional DIY mundur hingga 2028, DLH Sleman bentuk pendamping pengelolaan sampah di 17 kapanewon dan 86 kalurahan.
Simak daftar lengkap jalur Trans Jogja aktif beserta tarif terbaru dan sistem pembayaran nontunai di Yogyakarta.
Dengan cakupan rute yang menjangkau wilayah Sleman hingga kawasan barat Kota Jogja, operasional Bus DAMRI Jogja–YIA diharapkan dapat mendukung mobilitas penumpa