Koko Cici Jogja Tak Hanya untuk Warga Tionghoa

Kamis, 25 Oktober 2018 16:30 WIB
Koko Cici Jogja Tak Hanya untuk Warga Tionghoa

Salah satu finalis Koko Jogja 2018 saat menjawab pertanyaan dari juri dalam seleksi final Koko Cici Jogja 2018 di Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) Februari lalu./Harian Jogja-Holy Kartika N.S

Harianjogja.com, JOGJA—Pencarian duta pariwisata dan budaya Tionghoa, Koko Cici Jogja 2019 akan kembali digelar. Kompetisi ini tidak hanya diperuntukan bagi keturunan Tionghoa, tetapi siapapun yang bersedia belajar mengenai budaya Tionghoa.

"Materi ini sangat penting, karena mereka nantinya juga akan menjadi bagian dari keluarga besar Koko Cici Jogja dan sangat perlu agar mereka juga dapat turut terlibat dalam kegiatan apapun di masyarakat," ujar Pembina Koko Cici Jogja, Agustinus Eko Agus Susanto kepada Harian Jogja, Rabu (24/10).

Materi tentang budaya berorganisasi akan diberikan oleh Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC). Agus mengatakan materi tersebut dinilai perlu disampaikan, agar peran serta para pemuda di paguyuban ini dapat terus berlangsung.

"Agar rasa untuk berkumpul dan berinteraksi serta membangun jejaring kuat di masyarakat itu tergugah. Karena bagaimanapun juga misi mereka sebagai duta pariwisata DIY juga harus mampu memiliki interaksi sosial yang baik," jelas Agus.

Agus menambahkan pembukaan pendaftaran untuk menjadi Koko dan Cici Jogja 2019 mulai dibuka dengan pada 5 November 2018. Kali ini, diawali dengan roadshow yang akan menjangkau daerah yang lebih luas.

Lebih lanjut Agus memaparkan roadshow mulai dilakukan. Sejumlah sekolah dan perguruan tinggi di Jogja dan kabupaten lain akan disinggahi untuk mencari bakat-bakat muda yang ingin menjadi duta Jogja dalam mempromosikan potensi pariwisata, budaya dan akulturasi budaya kota ini.

"Siapa saja bisa berpartisipasi. Tidak hanya untuk mereka yang warga Tionghoa saja, akan tetapi siapapun yang memiliki keinginan untuk mendalami dua budaya ini boleh ikut serta," ungkap Agus.

Senada, Penanggungjawab Media Partner Pemilihan Koko Cici Jogja 2019, Ferdyanto Wijaya mengatakan Koko Cici Jogja 2019 memang terbuka bagi siapa saja. Bagi masyarakat umum yang tertarik untuk mempelajari budaya Tionghoa, didorong untuk mengikuti kegiatan akbar ini.

"Kami ingin budaya Tionghoa makin dikenal oleh masyarakat luas. Maka kami tak membatasi hanya untuk keturunan Tionghoa saja. Asalkan ia mau belajar dan tertarik budaya Tionghoa, boleh ikut pemilihan," katanya kepada Harian Jogja, Rabu.

Ferdyanto menjelaskan ada beberapa tahap yang akan dilalui oleh para peserta. Setelah pendaftaran Koko Cici Jogja 2019 ditutup, akan ada audisi untuk menentukan 24 finalis. Dalam audisi akan ada banyak aspek yang dilihat. Di antaranya pengetahuan atas budaya Tionghoa, bakat, attitude, dan lain-lain. Lantas 24 finalis tersebut akan mengikuti malam unjuk bakat dan grand final yang diselenggarakan bersamaan dengan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) 2019.

"Sebelum grand final akan ada karantina selama lima-tujuh hari. Para finalis akan diberi pembekalan berupa keterampilan dan pengetahuan yang perlu mereka miliki untuk dapat menjadi duta Koko Cici Jogja 2019," imbuhnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online