Lebih dari 100.000 Orang di DIY Telah Disuntik Vaksin
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Ilustrasi banjir./Bisnis Indonesia-Paulus Tandi Bone
Harianjogja.com, KULONPROGO—Memasuki musim penghujan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kulonprogo mencatat sebanyak 22 desa di sisi selatan Kulonprogo menjadi wilayah langganan banjir.
Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kulonprogo, Hepy Eko Nugroho, memaparkan 22 desa rawan banjir itu berada di lima kecamatan, yaitu Kecamatan Wates, Temon, Panjatan, Galur dan Lendah.
Secara rinci 22 desa tersebut yakni Desa Plumbon, Kalidengen, Paliyan, Kaligintung, Temon Wetan dan Temon Kulon di Kecamatan Temon; kemudian untuk Kecamatan Wates meliputi Desa Karangwuni, Sogan, Kulwaru, Ngestiharjo dan Triharjo. Untuk Kecamatan Panjatan, yakni Desa Gotakan, Panjatan, Cerme, Kanoman, Krembangan dan Tayuban. Di Kecamatan Galur, desa yang rawan banjir meliputi Desa Brosot, Tirtorahayu, Kranggan dan Pandowan; sedangkan di Kecamatan Lendah Desa Wahyuharjo menjadi kawasan yang rawan tergenang saat hujan turun dengan intensitas tinggi. "Itu belum termasuk desa yang terdampak banjir rob di wilayah pesisir pantai," ujar Hepy, Rabu (7/11/2018).
Hepy menjelaskan puluhan desa tersebut menjadi langganan banjir lantaran sungai yang melintasi wilayah itu mengalami pendangkalan. Pendangkalan terjadi lantaran faktor alam, yakni sedimentasi tanah. Akibatnya saat turun hujan, air meluap hingga membanjiri permukiman warga.
Dikatakan Hepy, sejumlah upaya sudah dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya banjir, di antaranya pembentukan Desa Tangguh Bencana, optimalisasi koordinasi dengan sukarelawan serta mengandalkan efek dari proyek normalisasi Sungai Heizero dan Sungai Sen mulai simpang empat Nagung di Kecamatan Wates hingga Jembatan Ngremang, Desa Bugel, Kecamatan Panjatan.
Hanya saja untuk proyek normalisasi sungai yang saat ini tengah dikerjakan tersebut baru fokus melancarkan arus air sungai dari Desa Giripeni, Sanggarahan dan Desa Bendungan. Sementara di hulu sungai seperti di Desa Bugel dan sekitarnya tidak ikut dikerjakan. Akibatnya wilayah lain tetap berpotensi terjadi banjir. "Meski begitu mudah-mudahan tahun ini [banjir] bisa berkurang. Karena kami juga sudah mengupayakan adanya normalisasi sungai," ujarnya.
Salah seorang warga Desa Panjatan, Deni Prasetyo, 23, mengatakan desanya menjadi wilayah rawan banjir, terutama jika hujan turun dalam intensitas tinggi. "Kalau seharian turun hujan, atau minimal setengah hari saja, air sungai langsung meluap," ujarnya.
Dia berharap dengan adanya normalisasi sungai yang dilakukan bisa mengurangi potensi terjadinya banjir di desanya. "Yang pasti semoga efek positifnya [adanya normalisasi sungai] bisa kami rasakan, karena kami juga takut kalau turun hujan apalagi seperti dulu saat terjadi Badai Cempaka, kami masih trauma," ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Vaksinasi Covid-19 tahap kedua untuk kalangan lanjut usia dan pelayan publik di DIY masih berjalan. Hingga Jumat (19/3/2021), total penerima vaksin telah mencapai 97.583 jiwa.
Sapi kurban Presiden Prabowo asal Gunungkidul habiskan biaya pakan Rp80.000 per hari. Sapi simmental itu berbobot lebih dari 1 ton.
Prabowo menghadiri panen raya jagung nasional, groundbreaking gudang pangan Polri, dan peluncuran 166 SPPG pendukung MBG di Tuban.
BMKG memperingatkan potensi hujan ringan hingga sedang disertai angin kencang di sejumlah wilayah Sumatera Utara pada Minggu.
Prabowo menyebut Program MBG dapat memutar uang hingga Rp10,8 miliar per desa setiap tahun untuk menggerakkan ekonomi rakyat.
Disdik Sleman hanya mengakui enam lomba nasional untuk Jalur Prestasi Khusus SPMB 2026 jenjang SMP.