SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Kegiatan sosial peduli lingkungan dengan bersih sungai dan menebar benih ikan oleh Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) APMD di Sungai Gajah Wong, Sidobali, Muja-Muju, Umbulharjo, Jumat (26/10/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, JOGJA- Masyarakat di sepanjang bantaran kali yang berhulu di Merapi diminta untuk terus meningkatkan kewaspadaan jika intensitas hujan yang turun cukup tinggi. Pasalnya hampir seluruh bantaran sungai memiliki potensi longsor.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogja Hari Wahyudi mengatakan mengimbau agar warga yang berada di sepanjang bantaran kali agar tetap waspada. Peningkatan kewaspadaan tersebut harus dilakukan menyikapi musim penghujan saat ini. Pasalnya, hampir semua titik di bantaran kali yang melewati wilayah Jogja memiliki potensi rawan longsor. "Hampir semua [potensi rawan longsor]," kata Hari kepada Harianjogja.com, Kamis (29/11/2018).
Kewaspadaan perlu dilakukan terutama ketika hujan berlangsung lama dan debit air kali terus meningkat. Kondisi tersebut, dikhawatirkan terjadinya longsor seperti hujan yang terjadi pada Selasa (27/11/2018) dan Rabu (28/11/2018) kemarin. Sejumlah talut di tiga kali yang mengaliri kota Jogja ambrol. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.
Berdasarkan data BPBD Jogja, talud yang ambrol berada bantaran Kali Winongo, Suryowijayan RT.01 RW.01, Kel. Gedongkiwo, Mantrijeron. Penyebabnya, arus air sungai meluap menggerus tanggul sehingga akses jalan kampung terganggu. Longsoran juga mengancam komplek makam dan menghanyutkan tiang lampu penerangan sungai.
Di Kali Code, talut yang terkikis air hujan menyebabkan lantai bangunan rumah ambles. Kejadian tersebut terjadi di RT.21 RW.05 Terban, Gondokusuman. Tidak hanya itu, tembok TPU Bangunrejp, Bangunrejo RT 45 RW 10, Kricak Tegalrejo, yang bersebelahan dengan Kali Buntung juga longsor akibat tanah di sekitar terkikis air hujan.
"Jadi kami minta agar masyarakat di bantaran kali khususnya untuk terus waspasa terhadap lingkungan masing-masing. Jika hujan durasi lama, debit air yang akan meningkat karena rawan terjadi longsor," katanya.
Agar aliran sungai [kali] tidak terhambat dan memicu terjadinya pengikisan talud, Hari berharap agar kebiasaan membuang sampah ke sungai [kali] tidak lagi dilakukan. Pasalnya perilaku buruk tersebut tidak hanya berdampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi menimbulkan bencana. "Selain sampah, kami berharap agar pengambilan pasir di kali tidak dilakukan serampangan, agar pondasi talut tidak rusak," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Kata oke ternyata punya sejarah sejak 1839. Istilah OK pertama kali tercatat di Boston Morning Post sebagai singkatan jenaka.
AI mengubah pendidikan tinggi Tiongkok. Ribuan jurusan ditutup atau ditunda, sementara kampus membuka program chip, robotika, dan AI.
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang secara resmi meluncurkan perluasan gerakan “Blonjo Warung Tonggo”.
Kapan waktu terbaik membeli tiket pesawat? Simak jarak ideal pemesanan domestik dan internasional serta hari yang bisa dicoba.
Lomba Baris-Berbaris DIY 2026 di Mandala Krida menguji ketahanan pelajar. Simak peserta yang sempat drop hingga daftar juara LBB.