Capgome Penutup Perayaan Imlek, Begini Sejarahnya

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Kamis, 21 Februari 2019 07:30 WIB
Capgome Penutup Perayaan Imlek, Begini Sejarahnya

Ilustrasi penjual mainan barongsai menjajakan barang dagangannya di sela-sela Karnaval Budaya Cap Go Meh di Jakarta beberapa waktu lalu./JIBI/Bisnis Indonesia/Dwi Prasetya

Harianjogja.com, JOGJA—Saat Tahun Baru Imlek, selalu terselip istilah capgome. Orang-orang sering menyebut capgome sebagai puncak Tahun Baru Imlek.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) capgome memiliki makna hari Tahun Baru Tiongkok (tanggal 15 bulan kesatu), biasanya dirayakan dengan bermacam-macam pawai termasuk barongsai.

Ketua I Jogja Chinese Art and Culture Center (JCACC) Jimmy Sutanto mengatakan capgome melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Tahun Baru Imlek. "Capgome itu dari bahasa Hokkian. Cap go itu artinya 15, me itu malam," kata dia ketika dihubungi Harian Jogja, Rabu (20/2).

Jimmy menyebutkan orang Tionghoa merayakan tahun baru hanya 15 hari, bukannya tanpa batas. Capgome merupakan malam penutupan Tahun Baru atau boleh disebut puncaknya.

"Karena perayaan Tahun Baru harus ditutup. Jangan terlalu lama karena orang harus kembali beraktivitas, bekerja, produksi. Enggak cuma senang-senang," ungkap dia.

Jimmy mengungkapkan pada tanggal 1 Tahun Baru menjadi pertanda di mulainya musim semi. Maka musim cocok tanam juga di mulai.

Menjelang hari pertama atau malam tahun baru, biasanya dirayakan dengan makan bersama anggota keluarga. Semua anggota diupayakan untuk bisa berkumpul karena malam tahun baru merupakan malam spesial lantaran akan menyongsong tahun baru bersama keluarga. Berkumpul dengan keluarga adalah yang terpenting pada malam ini.

Panganan Khas

Hari kedua, biasanya juga dilalui dengan makan bersama. Makanan yang disajikan misalnya misoa yang terbuat dari beras. Misoa sengaja dibuat panjang-panjang sebagai simbol agar berusia panjang.

"Selain itu, ada juga daging ayam, jamur, telur, rumput lautyang digoreng dan makanan lainnya. Lalu, sungkem kepada orang tua dan mengunjungi sesepuh yang tidak serumah. Hari ketiga biasanya saling kunjung sesama teman," tutur dia.

Pada tahun baru Imlek ada juga tradisi pemberian angpau. Jimmy menyatakan angpau diberikan kepada orang yang lebih muda dan belum menikah. Angpau yang diberikan disimbolkan sebagai modal. "Selain itu, angpau juga diberikan kepada sesepuh yang sudah tidak bekerja sebagai tanda bakti," kata dia.

Kemudian, malam terakhir perayaan biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama keluarga dan pergi bersama-sama ke tempat yang banyak hiasan khas Imlek. Selain itu, malam terakhir perayaan bisa juga dilakukan dengan makan bersama.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online