Nomor Satukan Perdamaian untuk Kemajuan Daerah

Fahmi Ahmad Burhan
Fahmi Ahmad Burhan Sabtu, 23 Februari 2019 10:00 WIB
Nomor Satukan Perdamaian untuk Kemajuan Daerah

Warga Desa Giripeni, Kecamatan Wates mengikuti bedah buku Pembangunan sebagai Perdamaian yang digelar Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY di Balai Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Jumat (22/2/2019).-Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, KULONPROGO—Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY menggelar bedah buku berjudul Pembangunan sebagai Perdamaian di Balai Desa Giripeni, Kecamatan Wates, Jumat (22/2/2019). Bedah buku digelar untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mementingkan perdamaian dalam proses-proses pembangunan daerah.

Kepala Seksi Pengembangan Minat dan Budaya Baca DPAD DIY Aris Wiryanto mengungkapkan judul buku itu diambil karena di Bumi Menoreh sedang berlangsung pembangunan bandara sedangkan Giripeni merupakan pusatnya Wates.

“DPAD ingin agar masyarakat bisa memahami pembangunan serta mengedukasi agar konflik-konflik di pembangunan bisa teratasi,” ujarnya, Jumat. Pendekatan yang diberikan dari buku yang diulas itu yakni pembangunan yang mengutamakan perdamaian.

Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY Hamam Mutaqim menuturkan dengan adanya bedah buku yang digelar DPAD DIY, masyarakat bisa menumbuhkan budaya literasinya serta menerapkan hal-hal penting yang ada di dalam buku.

Dengan semakin berkembangnya Giripeni yang juga direncanakan akan menjadi pusat Kota Wates, masyarakat bisa mempersiapkan hal tersebut. “Mau tidak mau masyarakatnya harus disiapkan. Dari buku ini [Pembangunan sebagai Perdamaian], yang harus dipentingkan yaitu perdamaian,” ujarnya.

Penulis buku Pembangunan sebagai Perdamaian, Lambang Trijono, mengatakan aspek keamanan, kebebasan, kesejahteraan dan pengakuan atas diri, identitas dan eksistensi patut ditekankan dalam pembangunan.

“Jangan sampai pembangunan itu menimbulkan rasa takut dan menimbulkan masalah,” ucapnya. Dalam pembangunan yang ada di masyarakat akan timbul pertumbuhan ekonomi namun jangan sampai juga pembangunan tersebut malah merusak. Setelah ada pembangunan mesti dilakukan pemerataan.

Menurut Lambang, buku yang dibuatnya merupakan bentuk tawaran agar pembangunan meminimalkan risiko yang ada. Isi buku yang dia tulis berdasarkan pengalaman-pengalaman kasus pembangunan yang ada di Indonesia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online