Efek Siklon Savannah, Sumur Warga Masih Tercemar

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Senin, 01 April 2019 19:07 WIB
Efek Siklon Savannah, Sumur Warga Masih Tercemar

Ilustrasi./Reuters

Harianjogja.com, KULONPROGO—Puluhan sumur milik warga Desa Panjatan, Kecamatan Panjatan masih tercemar pascabanjir melanda wilayah tersebut saat Siklon Savannah melanda pada pertengahan Maret 2019 lalu.

Kepala Dusun IV, Desa Panjatan, Puji Hartaya, mengatakan banjir yang merendam wilayahnya membuat sumur milik warga tercemar. Air sumur berubah menjadi kehitaman dengan bau yang menyengat.

Kondisi ini membuat warga mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan air bersih keperluan sehari-hari, seperti mandi, cuci dan memasak. “Banyak yang kemudian beli air, itu jadi lebih boros,” ungkapnya, Senin (1/4/2019).

Warga Desa Panjatan, Subarjo, mengaku penanganan sumur yang tercemar cukup terbantu dengan adanya relawan yang memiliki alat untuk membersihkan air sumur. Saat banjir, air sumur benar-benar kotor dan memaksa warga mandi di tempat lain.

Kemarin, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) DIY bersama TRC BPBD DIY, dan Relawan Jaringan Progo Menoreh (JPM) turun tangan membersihkan air sumur warga agar bisa dikonsumsi kembali. Koordinator MDMC DIY, Sunardi Wibowo, menuturkan banyak air sumur menjadi keruh dan bau sehingga tak layak konsumsi setelah banjir melanda di pertengahan Maret.

Kondisi ini terjadi lantaran banjir memasuki rongga-rongga di sekitar sumur. “Karena itu, kami [MMDC DIY] terjun langsung untuk membantu pembersihan,” tuturnya. Sejak Sabtu (30/3) hingga Minggu (31/3) kemarin, tim relawan bersama warga telah menguras sedikitnya 49 sumur di empat dusun di Desa Panjatan.

Jumlah itu diperkirakan terus bertambah mengingat dampak banjir meluas hingga ke desa-desa lain. “Permintaan [pembersihan sumur] terus bertambah, tidak hanya di Panjatan tetapi juga ada di Desa Tayuban, Kecamatan Panjatan,” ujar Sunardi.

Pembersihan dilakukan dengan cara menguras air sumur menggunakan pompa air. Setelah itu secara bergantian relawan turun ke dalam sumur untuk mengangkat lumpur yang menempel. Dalam pembersihan ini diakuinya mengalami sejumlah kendala, antara lain banyaknya lumpur sehingga sulit diangkat dan bau air yang menyengat. Meski begitu, tim relawan tetap berhasil melakukan pembersihan.

Sunardi memastikan warga yang sumurnya disedot tidak dipungut biaya. Kegiatan ini murni bentuk kepedulian sosial. Meski begitu banyak warga yang tetap memberikan bantuan berupa makanan dan minuman kepada para relawan yang bertugas. “Kami hanya ingin saling tolong menolong, tidak ada maksud lain,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Galih Eko Kurniawan
Galih Eko Kurniawan Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online