Kawula Muda Memandang Pileg 2019: Rekam Jejak Caleg Dicari Sesaat Sebelum Nyoblos

Salsabila Annisa Azmi & Lajeng Padmaratri
Salsabila Annisa Azmi & Lajeng Padmaratri Minggu, 14 April 2019 16:07 WIB
Kawula Muda Memandang Pileg 2019: Rekam Jejak Caleg Dicari Sesaat Sebelum Nyoblos

Pekerja meneliti kerusakan kemudian melipat surat suara pada proses pelipatan surat suara untuk DPR RI oleh KPU Kota Jogja di Gudang KPU Jogja, Jalan Lingkar Ahmad Yani, Banguntapan, Bantul, Rabu (13/03/2019)./Harian Jogja-Desi Suryanto

Harianjogja.com, JOGJA—Para pemilih muda warga Kota Jogja dan Sleman banyak yang tak kenal dengan calon anggota legislatif (caleg) yang akan mereka pilih. Para caleg pun mengakui banyak pemilih muda yang tak memahami fungsi lembaga legislatif. Berikut ini ulasan wartawan Harian Jogja Salsabila Annisa Azmi dan Lajeng Padmaratri.

Tinggal beberapa hari lagi Satriyo Wicaksono, 21, harus berpartisipasi dalam Pemilu 2019. Namun sampai saat ini, mahasiswa Universitas Atma Jaya Yogyakarta yang tinggal di Kota Jogja ini belum mengenal secara mendalam tentang calon legislatif yang akan dipilihnya. Dia mengaku selama ini lebih fokus mendalami sepak terjang kedua calon presiden dan wakilnya. Fokusnya juga terbentuk karena di mana pun dia berada, semua lebih senang membahas soal capres dan cawapres.

"Rencana menjelang pemilu baru aku mau mendalami informasi tentang caleg dan disitu pula aku akan menentukan pilihan," kata Satriyo, kepada Harian Jogja, pekan lalu.

Meskipun belum meriset lebih jauh tentang calon legislatif yang akan dipilih, Riyo sudah mulai mencari data caleg di website milik Komisi Pemilihan Umum (KPU). Jika ada waktu luang, Satriyo akan menelusuri rekam jejak masing-masing caleg di internet dan di media sosial. Satriyo memiliki kriteria tersendiri untuk memilih caleg.

"Terus terang, nantinya aku tidak akan memilih caleg yang memasang baliho atau alat peraga kampanye tidak berizin dan tidak pada tempatnya. Itu melanggar etika pariwara Indonesia dan langgar Perda No.2/2015 tentang Penyelanggaraan Reklame," kata Satriyo, beberapa waktu lalu.

Setelah itu, Satriyo akan meninjau rekam jejak para caleg dalam kariernya. Jika terbukti pernah bermasalah dalan korupsi atau memiliki jecenderungan akan memihak golongan tertentu, maka Satriyo akan langsung tidak memilih caleg tersebut.

Hal yang sama diutarakan oleh Larastining Retno Wulandari, 21. Warga Ngaglik, Sleman ini mengaku tidak mengenal latar belakang calon legislatif yang harus ia pilih pada 17 April mendatang. Ia banyak melihat poster caleg di pinggir jalan dan linimasa media sosialnya, namun tak satupun yang bisa ia korek rekam jejaknya.

“Sejauh ini, aku baru mau nyoblos presiden [pilpres]. Mau aja, sih [nyoblos caleg], cuma aku tuh bingung nyari tahu rekam jejaknya gimana?” Mahasiswa Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta ini.  Ia mengaku sudah mengakses beberapa situs Internet yang dapat membantunya mengenali profil caleg. “Tapi kadang bingung, kebanyakan filter buat dapet hasilnya,” kata dia.

Menurut dia informasi yang ia dapat melalui baliho sangat sedikit untuk membuatnya yakin untuk memilih caleg tersebut. “Sejauh ini, sebagian besar baliho itu tidak menunjukkan rekam jejak mereka. Paling masukin medsos [media sosial] doang, ini pun bisa dihitung jari. Selebihnya, ya biasa, nomor, foto, tagline,” tutur dia.

Terlebih, di sekitar rumahnya, ia tidak pernah mendapati ada caleg yang datang langsung ke warga untuk menyampaikan visi misi serta programnya. “Kalau kampanye, aku masih lebih milih yang langsung. Soalnya, ya dia emang bener-bener sampai terjun langsung. Menurutku, emang nggak ada yang bisa menggantikan efektivitas ketemu langsung, sih,” jelas Laras.

Dengan waktu yang tersisa sekitar tiga hari ini, Laras masih berupaya untuk mencari tahu rekam jejak masing-masing calon legislatif.

Caleg tingkat 1 dari partai politik PDIP yang mewakili DPRD Provinsi DIY, Andityas Bima Prasatya, 33, mengakui tidak mudah dalam menjalankan kampanye selama hampir embilan bulan. Sebab pemilih pemula awalnya tidak begitu mengetahui fungsi kerja tingkatan anggota legislatif.

Oleh karena itu, Satya yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur direktorat Pemilih Pemula Tim Koalisi Daerah 01 ini mengatakan dari Partai Politik PDIP menjadikan kegiatan yang menyasar milenial sebagai andalan. "Pemilih pemula utamanya dibedakan menjadi dua kategori pelajar dan nonpelajar dan masing-masing kategori memiliki cara kampanye yang berbeda," kata Satya.

Misalnya, kategori pelajar atau mahasiswa diedukasi melalui ajang yang sifatnya diskusi atau talkshow. Kategori nonakademis difokuskan pada pelatihan berkarya seperti cooking class bersama karang taruna atau pembentukan koperasi bersama muda mudi pengurus tingkat RT atau dusun.

Satya mengatakan sebagai caleg muda dia juga memiliki cara tersendiri untuk mendekati pemilih milenial. Salah satunya dengan membuat berbagai konten di media sosial yang mengenalkan sosok caleg saya pribadi dan mengajak pemilih pemula untuk terlibat serta ikut serta di dalamnya.

"Contoh ketika bersama muda mudi desa atau karang taruna setelah melakukan pelatihan kerja kemudian kami mencoba berkarya untuk memberikan manfaat bagi lingkungan," kata Satya.

Salah seorang caleg muda dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dapil III Sleman, Wiji Lestari, juga menggunakan media sosial untuk sosialisasi ke publik, terutama pemilih muda. “Saya karena caleg baru, lewat medsos. Ada di Facebook,” kata Wiji.

Sebagai anak muda yang baru berusia 24 tahun, Wiji tentu menyasar anak muda seusianya untuk memilihnya. Meski hanya menggunakan media sosial Facebook ia merasa sudah efektif karena menurutnya anak-anak muda selalu menggunakan media sosial, maka ia turut menggunakan media ini untuk publikasi.

Selain lewat media sosial, Wiji juga berupaya turut hadir ke masyarakat di sekitarnya untuk memperkenalkan diri sekaligus menunjukkan bentuk kepeduliannya. “Sering sama pemuda. Ikut terjun kegiatan masyarakat, misal kerja bakti, rapat,” kata dia.

Perempuan yang tinggal di Prambanan ini juga mengaku tak hanya hadir di sekitar rumahnya, namun juga kecamatan lain sesuai dapilnya. “Sosialisasi khusus desa mana gitu. Keluar juga,” ujarnya singkat.

 

Berkoordinasi dengan Parpol

Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kota Jogja, Frenky Argitawan Mahendra, mengatakan tidak ada treatment khusus dari KPU Kota Jogua dalam mendekati pemilih pemula. Sebab desain pemilu serentak memang selalu menimbulkan efek negatif caleg kurang dikenal.

Sehingga upaya KPU Kota Jogja adalah berkoordinasi dengan parpol untuk memberi informasi yang seimbang antara calon presiden dan calon legislatif. "Selain itu kami mengimbau dan berkoordinasi juga pada media massa, beritakan juga tentang sepak terjang caleg-caleg di Kota Jogja," kata Argitawan.

Meski begitu, ia mengaku tak ingat seberapa sering sudah melakukan upaya sosialisasi itu ke masyarakat. Wiji menyebutkan partainya memberi bantuan dalam bentuk poster dan kartu nama untuk disebarkan. “Ada sosialisasi dari kader partai juga. Menyampaikan visi misi dan besok akan berusaha memberi yang terbaik,” kata dia.

Upaya sosialisasi masing-masing calon legislatif agaknya harus digencarkan oleh mereka sendiri. Di Sleman, tercatat ada 554 calon legislatif dari enam daerah pemilihan. Dengan jumlah sebanyak itu, salah satu upaya sosialisasi caleg ke publik oleh KPU Sleman ialah menempelkan daftar nama-nama caleg beserta dapil, partai, dan nomor urutnya di kantor KPU Sleman. “Menempelkan [daftar nama caleg] itu satu cara dari sekian cara,” ujar Trapsi Haryadi, Ketua KPU Sleman saat ditemui di sela-sela tugasnya di Kantor KPU Sleman.

Untuk mengangkat pemilihan legislatif supaya bisa mendapatkan perhatian publik seperti pemilihan presiden, Trapsi menyebutkan perlu upaya yang simultan dari berbagai pihak. “Sosialisasi itu ada yang dilakukan oleh KPU Kabupaten Sleman, kemudian juga dilakukan oleh peserta pemilu, yang lain juga dilakukan oleh kelompok kepentingan dan pemerintah,” kata dia.

Jajaran KPU Sleman mengaku lebih fokus untuk sosialisasi teknis terkait pencoblosan. “Bagaimana sosialisasi tentang hari pencoblosan, tata cara pencoblosan, agar nanti menjadi surat suaranya sah dan kemudian kita juga menyampaikan ke masyarakat peserta pemilu itu apa saja. Saya kira teman-teman peserta pemilu baik itu partai politik dan perseorangan juga mempunyai cara tersendiri untuk memperkenalkan partai politiknya ataupun perseorangannya,” ujarnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Budi Cahyana
Budi Cahyana Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online