Skrining TBC Gunungkidul Belum Optimal, Kesadaran Warga Jadi Kendala
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
Peringatan Hari Kebangakitan Bangsa dan Nuzulul Quran yang digelar di Bangsal Sewokoprojo, Wonosari, Senin (20/5/2019) petang./Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Kantor Kementerian Agama Gunungkidul, Aidi Johansyah, mengajak masyarakat untuk menjaga ukuwah serta persatuan dan kesatuan antarumat beragama agar kondisi di masyarakat tetap aman dan damai. Hal ini disampaikan saat perayaan Hari Kebangkitan Nasional serta memperingati malam Nuzulul Quran di Bangsal Sewokoprojo, Selasa (20/5/2019) petang.
Menurut dia, di dalam peringatan ini terdapat momen penting untuk terus merekatkan tali persaudaraan baik antar umat Islam maupun dengan umat beragama lainnya. Terlebih saat Pemilu 2019 adanya polarisasi dalam dukungan sehingga jangan sampai hal ini menjadi faktor pemecah persatuan bangsa. “Suasaa yang damai harus terus dijaga. Jangan sampai karena pemilu masyarakat jadi terpecah belah. Dengan momen ini mari rekatkan tali persaudaraan,” kata Aidi kepada wartawan.
Dia menjelaskan peringatan Nuzulul Quran mengambil tema Kebersamaan dalam Keberagaman. Hal ini sejalan dengan semangat Hari Kebangitan Nasional yang terus berupaya mempersatukan bangsa di tengah-tengah banyaknya perbedaan suku, ras hingga agama. “Mari dalam malam penuh anugerah ini kita tingkatkan iman dan takwa. Jadi membangun kebersamaan adalah salah satu hikmah dari Nuzulul Quran,” katanya.
Seruan untuk penjaga persatuan dan kesatuan juga disuarakan oleh Bupati Gunungkidul, Badingah. Menurut dia, perbedaan pandangan politik adalah hal yang biasa. Namun jangan sampai hal ini dijadikan suatu alat untuk memecah belah dalam kehidupan di masyarakat.
Badingah menilai pelaksanaan pemilu sudah berjalan dengan aman dan damai sehingga suasana ini harus dijaga. “Semua warga harus miliki sikap dewasa dan tidak mudah terpancing isu-isu yang berkembang di masyarakat,” katanya.
Badingah menjelaskan perbedaan di masyarakat tidak hanya masalah politik, karena di saat bersamaan ada tantangan lain untuk menjaga kerukunan umat beragama. Sebagai bangsa yang majemuk, perbedaan merupakan hal yang biasa karena Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku, ras dan agama. “Seperti lidi kalau hanya satu sangat mudah dipatahkan, tapi kalau lidi-lidi diikat menjadi satu maka akan kuat dan dapat memberikan manfaat. Jadi, mari jaga persatuan dan kesatuan di tengah-tengah adanya perbedaan di masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Skrining TBC di Gunungkidul baru menemukan 411 kasus dari target 1.148 hingga Agustus 2026. Kesadaran warga menjadi salah satu kendala.
PSS Sleman kebobolan tujuh gol dari tiga laga Super League. Pieter Huistra mengakui catatan itu terlalu banyak dan harus diperbaiki.
Menkes Budi Gunadi Sadikin membahas kondisi keuangan BPJS Kesehatan, suntikan Rp20 triliun, hingga kualitas layanan rumah sakit.
Polisi membekuk Gembel, spesialis pencuri pompa sumur bor yang terungkap beraksi di 19 TKP di Gunungkidul dan Bantul.
Bupati Magelang Grengseng Pamuji meminta ASN meninggalkan kebiasaan lama dan memperkuat target pembangunan, termasuk kemiskinan dan pengangguran.
Dinkes Kota Jogja mencatat 41 kasus baru HIV hingga triwulan II 2026, turun dibandingkan 118 kasus pada 2024 dan 98 kasus pada 2025.