New York Dukung Jakarta Terbitkan Obligasi Rp5,6 Triliun
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Ilustrasi./Solopos-Ardiansyah Indra Kumala
Harianjogja.com, JOGJA- Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta menyebut, hasil pengujian laboratorium untuk beberapa sampel sapi, baik berupa daging, darah, dan sampel tanah serta residu di pertenakan, seluruhnya menunjukkan hasil negatif antraks.
“Sudah ada hasilnya. Semua sampel yang diuji dinyatakan negatif antraks,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto di Yogyakarta, Selasa (11/6/2019).
Menurut Sugeng, usai isu dugaan sapi yang terkena antraks di Kabupaten Gunungkidul muncul, berbagai pihak langsung melakukan upaya pencegahan cepat. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melakukan lokalisasi sapi, sedangkan Kota Jogja melakukan pengujian laboratorium.
“Di Kota jogja pun, sebenarnya hampir tidak pernah ada sapi dari Gununglkidul yang masuk. Biasanya, sapi yang masuk ke Yogyakarta berasal dari Bantul dan Boyolali,” katanya.
Selain itu, lanjut Sugeng, sapi yang dimiliki beberapa peternak di Kecamatan Kotagede dan Tegalrejo biasanya tidak ditujukan sebagai sapi konsumsi untuk disembelih, tetapi sapi tersebut dipelihara untuk dibesarkan saja kemudian dijual menjelang Idul Adha.
Meskipun demikian, Dinas Pertanian dan Pangan Kota Yogyakarta juga melakukan upaya pencegahan dengan menyemprotkan disinfektan di penampungan sapi yang berada di Rumah Pemotongan Hewan Giwangan.
Setiap hari, RPH Giwangan bisa memproduksi sekitar dua ton daging sapi untuk didistribusikan ke pasar-pasar tradisional di Kota Yogyakarta. Produksi tersebut belum memenuhi kebutuhan daging sapi yang mencapai enam ton per hari, sehingga kekurangan empat ton daging dipenuhi dari Bantul dan Boyolali.
“Kami pun memberikan antibiotik ke petugas di Rumah Pemotongan Hewan Giwangan yang kerap bersentuhan langsung dengan sapi-sapi yang akan disembelih,” katanya.
Selain antraks, penyakit yang juga kerap menyerang sapi atau hewan ternak lain adalah penyakit kuku dan mulut. “Untuk penyakit ini, juga sangat jarang terjadi di Kota Yogyakarta. Penyakit tersebut biasanya terjadi karena kondisi kandang yang tidak bersih dan sehat,” katanya.
Karena di Kota Yogyakarta, lanjut Sugeng, jumlah sapi di pertenakan tidak terlalu banyak maka potensi penularan penyakit tersebut cukup rendah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Cari motor 250 cc bekas di bawah Rp15 juta? Ada Ninja 250, Ninja 250 SL dan CBR250R yang masuk daftar.
Memori HP penuh tanpa ingin hapus aplikasi? Coba 3 cara ini, mulai dari bersihkan cache hingga mengatur penyimpanan WhatsApp.
Dua penembakan massal di Afrika Selatan menewaskan 27 orang dan melukai puluhan lainnya. Polisi memburu para pelaku.
Messi mencetak gol tendangan bebas ke-76 saat Inter Miami kalah 1-2 dari Columbus Crew. Ia kini tinggal dua gol dari rekor Marcelinho.
Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah melaju ke final ganda campuran Asian Games 2026 usai mengalahkan Feng Yanzhe/Huang Dongping 21-12, 21-14.