Alit Ambara Menyindir dengan Poster

24 Oktober 2013 14:50 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dinding ruangan Bentara Budaya Yogyakarta (BBY), Jl. Suroto, Kotabaru, dipenuhi tempelan poster bermacam-macam gambar dengan teks yang juga beragam.

Di antara ratusan poster itu, terpampang wajah Lurah Lenteng Agung, Jakarta, Susan, dengan senyum lebarnya. Tulisan Good Morning, Ayo Pertahankan Konstitusi Bersama, juga menghiasi poster itu.

Sejumlah poster bergambar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan berbagai gesture tubuh juga terpampang di dinding. Salah satunya menggambarkan Presiden yang tengah memainkan gitar lengkap berikut teks yang tertulis Selama KTT Berlangsung Dilarang Ngamen.

Inilah yang tersaji dalam pameran poster bertajuk Posteraksi yang berlangsung dari 16 – 24 Oktober 2013 di Bentara Budaya Yogyakarta (BBY).

Pameran ini menghadirkan 180 poster yang diseleksi dari 800 poster yang dibuat Nobodycorp. Internationale Unlimited Label yang dibuat dalam kurun 2010-2013.

“Poster saya memang untuk merespon topik yang hangat di media pemberitaan. Layaknya Twitter atau Facebook. Poster merupakan media saya untuk bersuara,” kata Alit Ambara, pengelola Nobodycorp kepada Harian Jogja, Rabu (23/10/2013).

Alit memberi contoh, poster bergambar Lurah Susan tersebut merupakan bentuk keprihatinnya saat menyikapi sejumlah warga yang menginginkan perempuan itu mundur dari jabatannya karena memiliki perbedaan keyakinan.

“Untuk itu saya tulis Good Morning, Ayo Pertahankan Konsitutusi Bersama. Ini merupakan pesan sindiran kalau agama itu bukan sebuah persoalan bagi agama lain untuk memimpin karena dilindungi undang-undang. Jadi ayo warga lebih baik jalani saja aturan itu dengan baik,” katanya.

Alit Ambara merupakan seorang desainer grafis lulusan Sejarah Seni Rupa Savannah College of Art and Design, Georgia, USA, dan lulusan Seni Patung, Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

Melalui label Nobodycorp.Internationale Unlimited yang ia dirikan pada 1993, ia memfokuskan perhatian pada pembuatan poster-poster pergerakan dan perlawanan. Isu-isu yang diusung beragam dari hak asasi manusia, anti globalisasi, sosial politik, dan kebudayaan.