DAMPAK LETUSAN KELUD : Butuh 2 Bulan Bersihkan Candi Prambanan

HarianJogja/Gigih M. HanafiPekerja membersihkan Abu Vulkanik masuk di kompleks Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Senin (17 - 2). Proses pembersihan zona inti Candi Prambanan diperkirakan memakan waktu hingga dua bulan. Tetapi untuk kawasan yang masuk zona pemanfaatan dan zona penyangga akan mulai dibuka untuk umum pada Rabu, 19 Februari 2014.
18 Februari 2014 13:58 WIB Rima Sekarani Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Candi Prambanan sudah mulai dibuka untuk wisatawan sejak Senin (17/2/2014) siang. Hanya saja akses wisatawan masih dibatasi hanya sampai depan kompleks candi. Hal tersebut dilakukan agar tidak mengganggu proses pembersihan candi yang baru dimulai Senin pagi.

“Tamannya boleh, tapi kalau candinya belum. Mungkin nanti bertahap. Misalnya yang sudah dibersihkan candi apa dulu,” ujar Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan Balai Pelestarian Cagar Budaya Yogyakarta, Wahyu Astuti, Senin (17/2/2014).

Khusus bagian taman memang telah dibersihkan sejak Sabtu (15/2/2013) lalu. “Taman sudah bersih sekitar 80 hingga 90 persen. Sudah hujan juga, jadi pohon-pohon sudah bersih,” kata Priyo Santoso, Kepala Taman Wisata Candi Prambanan.

Wahyu Astuti memaparkan, setelah dilakukan observasi, PH (kadar keasaman) air di Candi Prambanan mencapai angka enam. Hal tersebut menunjukkan adanya keasaman. Selain itu, abu vulkanik setebal satu centimeter membuat petugas harus berhati-hati dalam membersihkan.

“Jadi pertama kali kami bersihkan abunya, kemudian dengan scrub. Untuk yang di sela-sela candi kami guyur air sambil disikat dengan sikat ijuk. Kemudian diguyur air lagi, dan lihat sampai PH airnya tujuh atau normal,” papar Wahyu Astuti. Menurutnya, PH tujuh bisa meyakinkan bahwa abu vulkanik sudah tidak menempel di candi.

Dengan jumlah 16 candi, pembersihan Candi Prambanan diperkirakan membutuhkan waktu hingga dua bulan ke depan. “Hujan membuat abunya tambah lengket,” ungkap Wahyu Astuti.

Di samping itu, pengerjaan secara manual juga dianggap yang membuat proses pembersihan lebih lama.

Menurut Wahyu Astuti, Candi Prambanan lebih detil dan rumit daripada Candi Borobudur, sehingga tidak bisa ditutupi. “Kami juga tidak memakai sikat kawat karena itu akan merusak batu,” tambahnya.