Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Harianjogja.com, SLEMAN-Usaha homestay berkembang di Sleman. Selain lokasi yang potensi bisnis dan wisata, menjamurnya homestay juga didukung banyaknya jumlah desa wisata di Sleman.
Biaya menginap di homestay dianggap lebih murah dari pada hotel. “Kita kan untuk menengah ke bawah. Sewanya per kamar Rp250.000, kalau hotel kan bisa Rp500.000. Bedanya, hotel pelayanannya banyak, kalau di sini cuma menyediakan tempat saja,” begitu yang dipaparkan Yanto, pengelola salah satu home stay di Caturtunggal, Depok.
Menurut Yanto, secara umum, fasilitas yang diberikan homestay tidak jauh berbeda dengan hotel. “Sama saja kok. Fasilitas kamar mandi dalam, AC, wifi, tapi kalau makan cari sendiri di luar,” jelas Yanto, Sabtu (14/6/2014).
Karena lokasinya yang dekat dengan beberapa kampus di Sleman, sasaran homestay yang dikelola Yanto berasal dari keluarga mahasiswa. “Biasanya buat wisuda sama liburan juga,” kata Yanto.
Ditambahkan Yanto, meski hanya membayar biaya kamar, pelanggan juga bisa menikmati berbagai fasilitas lain seperti tempat ibadah, olahraga tenis meja, atau sekedar mengobrol akrab di ruang tamu dan teras rumah. “Suasananya dibuat seperti di rumah sendiri,” imbuhnya kemudian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jennifer Coppen dan Justin Hubner mengumumkan rencana pernikahan di Bali pada Juni 2026 dengan tiga konsep adat berbeda.
Ketimpangan antara jumlah advokat profesional dan masyarakat pencari keadilan di Indonesia masih menjadi isu sistem peradilan.
Kemkomdigi mengkaji aturan wajib nomor HP untuk registrasi akun media sosial guna memperkuat keamanan dan akuntabilitas ruang digital.
Seiring perkembangan teknologi ada metode yang disebut dengan backfilling untuk mengelola limbah tambang agar tak merusak lingkungan.
Pemkab Bantul memastikan tidak lagi membuka rekrutmen honorer baru dan fokus menyelesaikan tenaga non-ASN melalui skema PPPK.