PENEMBAKAN RUMAH AMIEN RAIS : Pakar Sebut Razia Senpi Perlu Diintensifkan

Redaksi Solopos
Redaksi Solopos Senin, 17 November 2014 20:20 WIB
PENEMBAKAN RUMAH AMIEN RAIS : Pakar Sebut Razia Senpi Perlu Diintensifkan

Senjata api jenis revolver milik seorang polisi asal Polres Demak yang ditemukan warga di sebuah warung makan di Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen, Kamis (19/7/2012). (Istimewa)

Harianjogja.com, JOGJA- Kepolisian perlu mengintensifkan razia senjata api seiring maraknya peredaran senjata api rakitan serta penggunaan secara ilegal, kata kriminolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Suprapto.

"Sekarang banyak ahli merakit senjata api sehingga razia perlu diintensifkan oleh kepolisian," kata Suprapto, Senin (17/11/2014).

Menurut dia, kasus penembakan di kediaman Ketua Majelis Pertimbangan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais beberapa pekan lalu membuktikan bahwa kepemilikan senjata api masih mudah disalahgunakan.

Suprapto menilai, selain mengintensifkan razia dan pengawasan kepemilikan senjata api, aparat kepolisian di DIY atau provinsi lainnya juga perlu segera mendata ulang penggunaan senpi di daerah setempat. Jika tidak dapat memberikan surat legalitas, atau sertifikat lengkap, perlu segera dilakukan penyitaan.

"Selain disita pemiliknya juga harus diproses secara hukum, tanpa pandang bulu," kata dia.

Menurut dia, prosedur atau persyaratan kepemilikan senpi perlu lebih diperketat. Motivasi kepemilikan, latar belakang pengguna, serta kondisi psikologis pengguna harus dipastikan tersaring dengan ketat.

Suprapto menilai, kasus yang terjadi di kediaman Amien Rais tersebut dilakukan oleh pengguna senpi berpengalaman karena ditembakkan dengan jarak 8 meter. Tembakan dengan jarak jauh kemungkinan besar dilakukan oleh pengguna lama di bidang persenjataapian.

Kepolisian, menurut dia, juga harus waspada dan lebih jeli dalam menganalisa jenis senpi yang digunakan pelaku, sebab saat ini senjata api mampu dimodifikasi. Menurut dia, teror dalam bentuk tembakan tersebut bukan bermotif perampokan, namun lebih mengarah pada motif politik pascapilpres.

"Hal serupa mungkin terulang kembali jika tidak segera diselesaikan oleh kepolisian. Teror tidak bisa langsung dipahami mengarah kubu tertentu, karena melibatkan berbagai kepentingan dan banyak orang," kata dia.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online