GKR Pembayun Pimpin Kwarda Pramuka DIY

Sejumlah pramuka siaga bermain jalan melingkar saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di SD Negeri Kleco 1, Laweyan, Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/5/2014). Permainan tersebut mereka lakukan guna melatih kekompakan dan kebersamaan antaranggota Pramuka. (Ardiansyah Indra Kumala/JIBI - Solopos)
31 Maret 2015 03:20 WIB Jogja Share :

GKR Pembayun terpilih menjadi ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DIY
Harianjogja.com, JOGJA - Putri pertama Raja Ngayogyakarta, GKR Pembayun,  terpilih memimpin Gerakan Pramuka DIY.

Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) DIY ini terpilih bulat sebagai ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Pramuka DIY setelah mengantongi enam suara Kwartir Cabang (Kwarcab) dan satu suara Kwarda DIY dalam Musyawarah Daerah (Musda) digelar di Museum Sonobudoyo II Jalan Wijilan Jogja, Sabtu (28/3/2015).

Wakil Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten Gunungkidul, Cristiono Riyadi mengatakan terpilihnya GKR Pembayun bukan pertama kali karena dalam sejarah, Kraton Ngayogyakarta berperan aktif dalam gerakan pramuka.

"Ini bukan sesuatu yang baru karena memang dalam sejarah pramuka di DIY Kraton Ngayogyakarta sudah aktif terlibat," katanya, Senin (30/3/2015).

Gerakan pramuka di DIY ingin mengembalikan tradisi lama, dimana beberapa tokoh Kraton Ngayogyakarta mulai dari Sri Sultan Hamengku Buwono IX, KGPH Puger, KGPH Hadikusumo memang memperhatikan gerakan korps baju coklat ini.

Menurut Cristiono yang juga panitia Musyawarah Daerah (musda) Gerakan Pramuka Kwarda DIY, agenda pemilihan ketua ada enam suara terdiri dari lima suara kwarcab kabupaten kota dan satu suara kwarda. Hasilnya, memilih GKR Pembayun sebagai ketua menggantikan Paku Alam IX yang sudah habis masa jabatannya.

Lebih jauh, Cristiono mengatakan gerakan pramukan yang telah mendapatkan legalitas pemerintah sebagai gerakan nasional melalui UU nomor 10/2012 masih mengalami hambatan dan kendala. Belum semua sekolah merespon Gerakan pramuka yang diamanatkan menjadi ekstra kurikuler wajib bagi peserta didik.

Namun demikian, Kwartir DIY menyadari saat ini masih kekurangan tenaga pembina pramuka untuk bisa memenuhui kebutuhan sekolah di Jogja.

"Kendala tersebut cukup komplek kiranya juga menyasar keterbatasan anggaran untuk memenuhi kebutuhan seperti honorarium pembina," imbuhnya.

Kwacab se-DIY berharap kepemimpinan baru Gerakan Pramuka dibawah GKR Pembayun nanti bisa mengejar ketertinggalan baik dalam kaderisasi hingga penerapan pramuka di tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi.