SABDA RAJA : Pakar : Gelar Mangkubumi Tidak Selalu Untuk Putra Mahkota

06 Mei 2015 12:40 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

dapat menjadi antisipasi kelanjutan suksesi di Jogja tetapi dari sisi kebudayaan, keputusan ini agak disayangkan.

Harianjogja.com, JOGJA-Raja Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang juga sebagai Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X tengah mempersiapkan putri pertamanya Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Pembayun menjadi penerus tahta Kraton. (Baca Juga : http://jogja.solopos.com/baca/2015/05/05/gkr-pembayun-jadi-putri-mahkota-bergelar-gkr-mangkubumi-601293">GKR Pembayun Jadi Putri Mahkota, Bergelar GKR Mangkubumi)

Persiapan Pembayun menjadi Putri Mahkota Kasultanan Ngayogyakarta ini dikuatkan dalam prosesi Dawuh Rojo yang digelar secara tertutup di Siti Hinggil, Komplek Kraton, Selasa (5/5/2015). Sultan mengganti gelar Pembayun menjadi GKR Mangkubumi Hamemayu Hayuning Bawono Langgeng Ing Mataram.

Menanggapi situasi Kraton Jogja terkini mengenai Pembayun Calon Ratu, Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Margana, mengatakan Sultan berhak memilih gelarnya sendiri seperti juga raja-raja sebelumnya.

Menurut dia, keputusan menghilangkan gelar khalifatullah bisa dilihat sebagai sikap yang reflektif terhadap fungsi dan kedudukanya sebagai raja. Khususnya sejak Kraton menjadi bagian dari Republik Indonesia. Gelar itu, lanjut dia, sifatnya sangat simbolik, karena dalam praktiknya gelar itu tidak sepenuhnya terealisasi dalam kehidupan praktis.

Menurut dia, dari perspektif politik kemungkinan Sultan ingin membangun tradisi baru, dan sebagai antisipasi bagi kelanjutan suksesi di Jogja.

“Namun dari perspektif kebudayaan barangkali agak disayangkan kalau gelar itu ditanggalkan sekalipun fungsinya simbolik,” kata Ketua Jurusan Sejarah FIB UGM itu, Selasa (5/5/2015).

Menurut dia, Sultan tahu persis seorang perempuan menurut Islam tidak diperkenankan sebagai pemimpin agama.

“Jadi ada tidaknya gelar khalifatullah itu pengaruhnya secara praktis dalam keagamaan,” katanya.

Ketika ditanyakan apakah nama atau gelar Mangkubumi itu identik dengan putra mahkota, Sri Margana mengatakan gelar Mangkubumi tidak selalu diberikan untuk putra mahkota.