Warga Jogja Ditantang Berani Gundul
Puji Widodo menunjukkan produk geplak yang telah dikemasi, Rabu (11/11/2015). Dia merupakan salah satu produsen geplak di Dusun Pulodadi, Desa Kulur, Kecamatan Temon, Kulonprogo. (JIBI/Harian Jogja/Rima Sekarani I.N.)
Kuliner Kulonprogo kali ini berupa geplak.
Harianjogja.com,KULONPROGO -Geplak terkenal sebagai makanan khas Bantul. Camilan manis berbentuk bulat ini terbuat dari daging buah kelapa. Namun, produsen geplak tidak hanya berpusat di Bantul, melainkan sudah merambah ke Kulonprogo.
Produsen geplak ala Kulonprogo bisa ditemukan di wilayah Desa Kulur, Kecamatan Temon. Setidaknya ada enam produsen geplak yang ternyata masih terikat dengan hubungan keluarga dan saudara.
Salah satunya adalah Puji Widodo, warga Dusun Pulodadi. Dia mengungkapkan, orang tuanya adalah produsen geplak pertama di Kulur sejak tahun 1970an. Saat itu, mereka ingin memanfaatkan hasil tanaman kelapa yang melimpah di sekitar rumah. Produk geplak itu kemudian diberi label
“Geplak Pak Kusnan” dan masih dipakai hingga sekarang. “Ibu saya asal Bantul. Waktu itu di sini belum ada yang bikin geplak,” kata Widodo saat ditemui Harianjogja.com di rumahnya, Rabu (11/11/2015) lalu.
Setelah kedua orangtuanya meninggal, usaha geplak itu langsung diteruskan oleh Budi, kakaknya. Widodo sendiri baru mulai membuka usaha serupa pada akhir 2009 dengan label “Geplak Mubarok”. Pada hari biasa, dia memproduksi kelapa setiap dua hari sekali dari sekitar 150 buah kepala. Namun pada musim liburan, seperti lebaran, libur sekolah, dan tahun baru, dia bisa mengolah 300 buah kelapa menjadi geplak setiap hari.
Geplak buatan Widodo menawarkan empat varian rasa, yaitu durian, leci, pandan, dan pisang. Harganya cukup terjangkau, hanya Rp24.000 per kilogram. Menurut Widodo, geplak Kulonprogo lebih murah karena bahan bakunya tersedia melimpah dan tidak perlu mengambil dari luar daerah.
Meski harganya bersaing, Widodo mengaku memilih tidak memasarkan geplak ke Jogja, melainkan di sekitar Wates serta Purworejo dan Kutoarjo, Jawa Tengah.
“Toko-toko di Jogja mungkin sudah jual seharga Rp40.000. Kalau di sini, Rp30.000 saja sudah mahal,” ujar pria 39 tahun itu.
Saat ini, ada enam produsen geplak di Kulur, tiga diantaranya adalah Widodo dan dua saudara kandungnya. “Ada juga di Kebondalem tapi masih saudara juga sama saya,” ungkap dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rupiah melemah ke Rp17.717 per dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga The Fed tinggi lebih lama dan sentimen geopolitik global.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.
Di tengah tantangan ekonomi dan perubahan tren fesyen modern, kelestarian kain wastra Nusantara justru menemukan napas baru lewat tangan-tangan kreatif