RAWAN PANGAN : Grogol Bakal Setop Pengiriman Tebu ke Madukismo, Mengapa?

Ilustrasi pengolahan tebu di pabrik gula (JIBI/Bisnis - Antara)
08 Februari 2016 18:21 WIB Gunungkidul Share :

Rawan pangan mungkin dialami, Desa Grogol berusaha pertahankan sektor pertanian

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-- Masuk ke dalam daftar daerah rawan pangan di Gunungkidul, Pemerintah Desa Grogol, Kecamatan Paliyan, akan memaksimalkan hasil tebu untuk antisipasinya utamanya.

Kepala Desa Grogol, Suhari, mengungkapkan hasil tebuĀ  menjadi salah satu potensi di desanya. Namun pemanfaatan tanaman tebu belum dapat dirasakan oleh petani tebu di Grogol sendiri. Padahal tanaman tebu banyak tumbuh di persawahan warga.

"Selama ini hasil tebu selalu dikirim ke Pabrik Madukismo di Bantul, mulai tahun ini rencananya akan dihentikan. Selanjutnya biar warga yang mengolah hasil tebu itu sendiri," kata dia, Rabu (3/2/2016).

Terkait dengan desanya yang berpotensi rawan pangan, ia cukup gelisah pada perkembangan desa Grogol yang dirasa semakin tertinggal dibanding desa lainnya di Paliyan. Pasalnya ia melihat potensi desa yang sedikit dan masih bergantung pada hasil pertanian saja. Penghasilan utama dari penduduk adalah dari hasil sawah. Sebanyak 90% penduduk bekerja sebagai petani, sedangkan 10 % pegawai.

Suhari juga mengatakan bahwa faktor Sumber Daya Manusia masih menjadi salah satu pengaruh tertinggalnya kemajuan desa. Sehingga tingkat produktivitas bekerja masih tergolong rendah dan berpengaruh ke perekonomian.

"Warga desa Grogol mayoritas orangnya sudah lansia tidak dapat berbuat banyak untuk kemajuan desa.
Anak-anak muda banyak yang pindah ke luar daerah untuk mengadu nasib. Sehingga sumber daya manusianya belum kreatif, dan masih bergantung pada tani," kata Suhari.

Ia bersama perangkat desa lainnya berusaha keras memikirkan jalan tengah dari permasalahan rawan pangan. Ada beberapa rencana, salah satunya dengan membangun pasar wisata. Menurutnya, jalan Paliyan-Playen merupakan jalur yang banyak dilewati oleh wisatawan menuju beberapa objek wisata di Gunungkidul, prediksinya pasar wisata tersebut nanti akan ramai dikunjungi banyak orang.

"Pasar Wisata nanti dibangun di sebelah Masjid timur Kantor Desa Grogol, nanti disitu warga dapat menjual berbagai macam cinderamata maupun oleh-oleh khas Gunungkidul kepada wistawan sehingga mampu menambah pendapatan," katanya lagi.

Dibandingkan dengan Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, yang juga termasuk dalam daftar Desa rawan pangan , akan mengembangkan potensi perikanan. Menanggapi hal tersebut, Suhari baru akan merintis di Desanya. Sebab menurutnya, jumlah air di Desa Grogol tak benar melimpah. Selama ini warga hanya mengandalkan air PAM saja untuk aktifitas sehari-hari dan hal tersebut belum bisa dipaksakan untuk pengairan di sektor perikanan.

Sebelumnya, Kepala Sub Bidang Ketersediaan Pangan BLLP, Nur Cholis Suaidi, menyebutkan terdapat tujuh desa di Gunungkidul yang terindikasi rawan pangan dalam beberapa indicator. Ketujuh desa tersebut antara lain Desa Grogol dan Karangasem di Kecamatan Paliyan, Banyusoco di Kecamatan Playen, Mertelu di Kecamatan Gedangsari, Kenteng di Kecamatan Ponjong, Wonosari dan Duwet di Kecamatan Wonosari.