PESAWAT JATUH : Ivy Ingin Persembahkan Bintang Untuk Keluarga

Foto kerumunan warga di area kejatuhan pesawat latih TNI-AU di Malang, Rabu (10/2/2016). (Twitter.com - @didywibowo)
12 Februari 2016 08:20 WIB Ujang Hasanudin Jogja Share :

Pesawat jatuh meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan sahabat korban.

Harianjogja.com, JOGJA-Ivy Safatilah, pilot pesawat latih tempur Super Tucano TT-3108 yang wafat dalam kecelakaan di Malang Jawa Timur, meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga dan sahabatnya, tak kecuali kedua orang tuanya.

Ayah Ivy, Faisal Rozi mengungkapkan anak kedua dari tiga saudaranya itu berkali-kali mengutarakan keinginannya untuk mengabdikan diri kepada bangsa dan negara melalui tugasnya di TNI Angkatan Udara. Bahkan Ivy ingin mempersembahkan pangkat bintang jenderal untuk keluarganya.

"Dia ingin persembahkan bintang untuk keluarga," ungkap Faisal usai pemakaman Ivy Safatilah di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Kamis (11/2/2016).

Namun sebelum keinginannya itu tercapai, Ivy meninggal dunia. Alumnus Akademi Angkatan Udara (AAU) Adisutjipto 2000 lalu itu gugur dalam pesawat Super Tucano yang dipilotinya, Rabu (10/2/2016) di Malang.

Faisal mengatakan, Ivy sejak kecil memang bercita-cita ingin menjadi tentara Angkatan Darat, namun akhirnya masuk AAU dan lulus pada 2000 lalu dengan nilai baik. Dalam keluarga, Ivy satu-satunya menjadi TNI, sementara kakak dan adiknya bekerja di perusahaan swasta.

Faisal mendengar kabar pesawat yang dipiloti anaknya itu pada Rabu siang. Namun, saat akan berangkat pada Rabu malam dari Tuban, Jawa Timur, menuju Malang, ia dikabari pihak Pangkalan Udara Abdu Rohman Saleh bahwa anaknya sudah meninggal dunia. Faisal disarankan langsung menuju Jogja karena jenazah dimakamkan di TMP Kusumanegara.

Dirinya pun tidak mempersoalkan anaknya dimakamkan bersama para pahlawan. Ivy dimakamkan di komplek F, dekat dengan makam Kapten Penerbang Dwi Cahyadi, pilot pesawat latih T-50i Golden Eagle yang juga gugur dalam kecelakaan pesawat saat atraksi dalam acara Gebyar Dirgantara di Lanud Adisutjipto, beberapa waktu lalu.

Faisal mengaku tidak ada firasat sebelum kecelakaan anaknya. Ia terakhir bertemu tatap muka pada pertengahan Januari lalu, saat Ivy pulang ke kampung halamannya di Tuban.

Namun, pada Selasa (9/2/2016) malam, Ivy Sempat menelpon ibunya menanyakan kabar.

"Teleponnya sampai satu jam sama ibu, tanya kabar bagaimana bapak, bagaimana kabar ibu," kata Faisal mengenang anaknya.

Ia tidak menyangka komunikasi lewat telepon Ivy dengan ibunya sehari sebelum kecelakaan itu menjadi komunikasi terakhirnya.