WISATA JOGJA : Titik Nol Kilometer dan Andong Sama-sama Ikon Wisata Jogja, Mana yang Harus Berubah?

Dua kuda penarik andong terpeleset di Titik Nol Kilometer Jogja, Rabu (23/12 - 2015). (Sumber: akun facebook "Sigit Aulia Kurniawan" di grup facebook "info cegatan jogja")
21 Februari 2016 05:19 WIB Jogja Share :

Wisata Jogja dengan andong terganggu dengan adanya sejumlah kasus terpeleset di titik nol kilometer

Harianjogja.com, JOGJA- Ketua Pansus Moda Transportasi Tradisional DPRD DIY Edy Susilo mengatakan, persoalan kuda terpeleset di titik nol kilometer memang cukup unik. Pasalnya baik titik nol maupun andong sama-sama  merupakan ikon Jogja dan mestinya bisa saling mendukung, tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

Edy pun menyarankan pemeritah daerah, terutama penanggungjawab teknis pembangunan titik nol mengakui bahwa pemasangan batu andesit itu kurang cermat. Mestinya infrastruktur jalan nyaman bagi semua pengguna dan semua moda transportasi jalan raya. Nyatanya para kusir yang juga punya hak tak bisa berjalan dengan nyaman.

Dia mengakui untuk merubah batu andesit bukan perkara mudah dan murah. Solusi mengganti tapal kuda karet dinilainya sebagai langkah yang paling efektif dan efisien. Namun lagi-lagi muncul permasalahan lain bila tapal kuda berganti material.

“Seperti becak, andong itu merupakan daya tarik wisata di Jogja. Keunikannya yang membuat kangen wisatawan termasuk suara derap kudanya,” kata dia, baru-baru ini.

Edy pun menyarankan pemerintah tak asal menyarankan mengganti dengan karet. Dia meminta Pemda untuk melakukan eksperimen bentuk ladam seperti apa yang paling baik untuk mencegah tergelincir sekaligus menjaga keunikan suara tapak kuda. Dengan begitu semua pihak bisa terakomodir kebutuhannya tanpa saling mengorbankan apa yang sudah ada.

“Harus tanggungjawab, tidak tahu, mungkin mengombinasikan besi dengan karet, atau ada solusi lain. Tapi Pemda harus memfasilitasi itu, jangan hanya meminta kusir untuk mengganti tapal kuda karet saja,” tandas dia.