DUGAAN MALPRAKTIK BANTUL : Setelah Operasi Ambeien, Kulit Suparman Melepuh

Soginah saat dengan setia merawat Suparman. (Arief Junianto/JIBI - Harian Jogja)
22 Februari 2016 22:20 WIB Arief Junianto Bantul Share :

Dugaan Malpraktik Bantul dialami seorang warga Bantul.

Harianjogja.com, BANTUL-Seorang pria warga Sakaran, Desa Wirokerten, Kecamatan Banguntapan diduga mengalami malpraktik paska-operasi ambeien yang dilakukannya di RSU Rajawali Citra.

Rumah sederhana dengan dinding yang masih berwarna semen dan bata merah itu tampak lengang. Di dalamnya tak ada banyak orang. Begitu juga dengan perabotannya, di dalam rumah itu tak ada perabotan rumah tangga lengkap.

Ruang tamunya hanya berhias selembar tikar, sedangkan kamar tidurnya hanya dilengkapi sebuah meja kecil, lemari, dan sebuah ranjang. Di salah satu kamar itulah tubuh Suparman, 47, tergolek tak berdaya.

Sudah hampir sebulan lamanya Suparman terkapar. Jangankan untuk bergerak, untuk bicara saja, Suparman harus menahan sakit yang luar biasa di tenggorokan dan bibirnya.

Kondisi Suparman yang terlihat kini, mungkin sudah jauh membaik ketimbang beberapa minggu lalu. Kulitnya yang melepuh sepanjang kepala hingga separuh badan bagian atas kini memang sudah tampak pulih dan mengering. Hanya tinggal bibirnya dan kulit di sekitar matanya saja yang masih membuatnya sulit berkedip, dan bercakap. Bahkan, untuk menelan sekadar air putih saja, bapak dua anak itu harus menahan rasa perih di bagian tenggorokannya.

“Silakan masuk, Mas,” sapa seorang perempuan yang belakangan kami tahu bernama Soginah, 39.

Soginah adalah istri dari Suparman. Dengan setia, perempuan yang sehari-hari bekerja di sebuah pabrik konveksi di kawasan Banguntapan itu merawat suaminya. Mulai dari menggantikan baju, hingga menyuapi sesendok demi sesendok air teh hangat ke dalam mulut suaminya yang sulit bergerak itu.

Ia tak pernah menyangka jika niat melakukan operasi ambeien dengan menggunakan fasilitas Jamkesmas untuk suaminya justru membuat lelaki yang dicintainya itu menderita seperti sekarang ini. Semua berawal pada 26 Januari lalu.

“Ketika itu, saya membawa suami saya ke RS Rajawali Citra untuk operasi ambeien,” kenangnya.

Beberapa hari paska-operasi, semua berjalan wajar. Bahkan hingga jatah kontrol yang kedua kalinya, kondisi ambeien suaminya pun sudah berangsur sembuh.

Tapi saat setelah kontrol untuk yang ketiga kalinya, petaka itu datang. Setelah mengonsumsi obat yang diberikan oleh rumah sakit yang berlokasi di kawasan Banjardadap, Desa Potorono, Kecamatan Pleret ini, kulit sekujur tubuh suaminya justru mendadak berubah menghitam.

Bahkan, tak butuh waktu lama, sebagian besar kulit dari sekujur kepala hingga perut bagian bawah suaminya terlihat seperti melepuh. Paling parah, kulit disekitar mata dan bibir suaminya itu pun terlihat memerah dan bengkak.

“Kami sempat komplain ke sana [RSU Rajawali Citra], katanya kemungkinan alergi. Kata mereka alergi itu memang tak bisa diprediksi.

Tak mendapatkan respon memuaskan, Soginah pun lantas membawa suaminya itu ke RS Nur Hidayah, Jumat (12/2/2016) lalu. Ternyata di oleh pihak RS Nur Hidayah, suaminya divonis menderita alergi.

“Suami saya katanya alergi asam metafenamat,” cetus Soginah.

Parahnya, tak ada sedikit pun rasa tanggung jawab dari pihak RSU Rajawali Citra  yang dirasakannya. Terkait hal ini, Soginah mencoba mengingat-ingat kembali respon apa yang sudah ditunjukkan oleh pihak RSU Rajawali Citra.

“Mereka [pihak RSU Rajawali Citra] hanya membesuk suami saya di RS Nur Hidayah. Mereka lantas memberikan uang sebesar Rp100.000 yang diberikan salah satu dokter RSU Rajawali Citra kepada kami. Itu pun atas nama pribadi.”

Sepekan dirawat di RS Nur Hidayah, ia pun membawa pulang suaminya. Ia lebih memilih merawat-jalankan suaminya di rumah sakit berlokasi Desa Trimulyo, Jetis itu.

Praktis, kini ia harus memohon belas kasih pimpinan perusahaan tempatnya bekerja untuk memberikan toleransi izin kerja lebih sering.

“La wong ini, suami saya belum bisa bergerak. Belum bisa makan. Hanya minum susu khusus,” ucapnya pelan menahan isak.

Bahkan, saat ditanya apa rencana selanjutnya yang ia lakukan, dirinya tak lagi sanggup berkata-kata. Senyum mirisnya seolah menjelaskan bahwa ia tak tahu apa lagi yang harus dan akan ia lakukan selain menungu kesembuhan suaminya saja.

Sebagai buruh murah, ia masih harus berpikir mengentaskan bungsunya yang masih duduk di bangku SMP. Kini, ia harus juga memikirkan kesembuhan suaminya.

Sayangnya, ketika media ini mencoba mengklarifikasi kebenaran kisah Soginah itu kepada pihak RSU Rajawali Citra, pihak rumah sakit itu tak banyak berkomentar. Kami tak bisa menemui pihak rumah sakit dengan alasan masih menjalankan tugas. Meski membenarkan pernah merawat pasien tersebut, pihak rumah sakit enggan banyak mengklarifikasi terkait hal tersebut.